Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 499 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 499 by Sally Diandra. Di Dargah, Jalal menghampiri seorang perempuan yang sedang mengubah agamanya menjadi agama Islam, Jalal hendak memberikan selamat pada perempuan itu, Jalal kaget ketika dilihatnya kalau perempuan itu adalah Jodha, istrinya. Jalal segera mendekati Jodha “Apa yang kamu lakukan disini ?” Jodha hanya diam saja “Ulama hentikan ini semua !” Jalal berteriak lantang “Yang Mulia, kami tidak tahu kalau Mariam Uz Zamani dalam keadaan terpaksa” sang ulama mencoba memberikan penjelasan “Aku mohon keluar semua dari sini, aku ingin bicara secara pribadi dengan istriku” semua orang yang hadir disana meninggalkan mereka berdua, Jalal menatap Jodha dengan ketus dan berkata “Kamu telah berjanji padaku bahwa kamu tidak akan mengubah agamamu maka kenapa kamu melakukan ini semua ?”, “Yang Mulia, aku merasa tidak berdaya” Jodha memandang wajah Jalal dengan tatapan sedih “Aku kan sudah mengatakan padamu, bahwa itu adalah sebuah dosa jika kamu menerima Islam karena kamu merasa tidak berdaya, mengapa kamu melakukan ini semua Ratu Jodha ?”, “Apa yang bisa aku perbuat ? Tidak ada berita apapun dari kamu” Jodha merasa sedih karena Jalal marah kepadanya “Aku ingin mengejutkan kamu bahwa aku telah memenangkan perang ini, aku telah membuat kamu mengerti bahwa kamu tidak perlu melakukan semua ini, Ratu Jodha ! Aku melakukan perang ini untuk kemerdekaan JA logo 100bangsaku, ini tidak ada hubungannya dengan kamu yang seorang Rajvanshi” Jalal semakin murka ke Jodha “Aku pikir dengan melakukan ini semua, maka semuanya akan baik baik saja, Yang Mulia”, “Kamu telah melakukan kesalahan, Ratu Jodha ... kamu dalam keadaan tertekan ketika menerima Islam sebagai agamamu, kamu telah melakukan kejahatan, kamu telah menghina aku, agamaku, perintahku, janjiku !” Jalal benar benar sangat terluka dengan perlakuan Jodha, kemudian segera pergi meninggalkan Jodha, Jodha sangat sedih.

Dihalaman istana kerajaan Mughal, seorang pelayan sedang berlari lari dan tiba tiba menabrak Hoshiyar yang juga sedang berjalan dihalaman istana “Apa yang kamu lakukan ?” Hoshiyar saat itu sudah mau marah namun tertahan ketika pelayan itu mengabarkan bahwa ada sebuah berita untuk Hamida “Aku membawa sebuah kabar untuk Mariam Makani” ujar si pelayan “Apa itu ?” kemudian sang pelayan menceritakan berita tersebut ke Hoshiyar, Hoshiyar tersenyum senang “Ya sudah pergi kamu sana ! Biar aku yang memberitahu Mariam Makani” Hoshiyar segera berbalik menuju ke kamar Hamida

Sementara itu dikamar Hamida, Hamida sedang ngobrol bersama Gulbadan, Rukayah dan Salima “Tidak ada berita apapun yang membuat aku bahagia, tidak ada kabar dari Jalal dan anak anaknya” Hamida merasa sedih karena Jalal belum memberikan kabar apapun “Aku telah mengirimkan prajurit untuk mencari Yang Mulia tapi mereka juga belum kembali, ibu” ujar Rukayah tepat pada saat itu Hoshiyar masuk ke kamar Hamida dan mengucapkan salam pada semua yang ada disana “Ada sebuah kabar baik, Mariam Makani ... Yang Mulia akan segera ditiba di Agra” Hamida sangat senang sekali begitu mendengar ucapan Hoshiyar “Apakah semuanya baik baik saja ?”, “Mereka semua baik baik saja, Mariam Makani dan mereka telah memenangkan peperangan juga” semua yang ada di kamar Hamida tersenyum senang “Allahu Akbar ! Tuhan Maha Besar ! Kita harus menyambut mereka dengan meriah” ujar Hamida dengan mata berbinar binar “Kita akan melakukan itu, ibu ... Itu adalah sebuah berita baik ... Hoshiyar aku akan memberikan kamu hadiah yang sangat mahal untuk berita ini” Hoshiyar sangat senang mendengar ucapan Rukayah yang akan memberinya hadiah.

Dihalaman istana, semua penghuni istana keluar menuju kehalaman untuk menunggu kedatangan Jalal bersama pasukannya, tak lama kemudian Jalal dan pasukannya telah memasuki gerbang istana, dari atas balkon Hamida yang duduk disebuah kursi sangat senang melihat kedatangan anaknya, begitu pula Salima dan Rukayah, semuanya tersenyum melihat Jalal, para pelayan memberikan sambutan untuk Jalal dan pasukannya dengan menaburkan bunga bunga dan mengelu elukan nama Jalal, Jalal memberikan salam pada semuanya, kemudian Todar Mal dan Birbal memberikan salam dan ucapan selamat pada Jalal, ketika Jalal menghampiri mereka, tak lama kemudian tandu yang membawa Jodhapun tiba dibelakang Jalal, Jodha keluar dari dalam tandu, Jalal hanya melihatnya sekilas dan tak mempedulikannya, Jodha hanya bisa diam sambil memandang Jalal dengan sedih. “Apa yang Ratu Jodha lakukan dengan Yang Mulia ? Apalagi dengan mengenakan busana muslim seperti itu” ujar Rukayah dengan nada sinis “Tadi dia mengatakan kalau mau pergi ke Mandir tapi tidak dengan mengenakan pakaian seperti itu tadi” Salima mencoba membela Jodha “Pasti terjadi sesuatu yang tidak beres !” bathin Rukayah dalam hati “Salim, Murad, Danial dan pasukan lainnya akan segera menyusul setelah mengecek stabilitas di Iran” ujar Jalal kemudian meninggalkan Birbal dan Todar Mal sambil sekilas melirik kembali kearah Jodha

Jalal menemui ibu dan keluarganya di Hareem, dipintu keluar Jalal langsung disambut oleh Aram Bano anak bungsu kesayangannya “Ayaaaaahhh ...” semua yang hadir diruangan itu tersenyum sangat senang melihat mereka berdua, sambil menggendong Aram Bano, Jalal menerima bunga mawar dari beberapa istrinya yang hadir disana kemudian menurunkan Aram Bano dan memeluk Rukayah juga Salima, lalu duduk disebelah Hamida “Selamat Jalal ... kamu telah menang berperang” Jalal mencium tangan ibunya lembut “Aku sangat khawatir begitu aku tahu kalau ibu sakit” Jalal menatap ibunya dengan perasaan sedih “Kenapa kamu tidak mengirimkan surat padaku tentang penyakitnya, Rukayah ?”, “Ibu yang meminta mereka untuk tidak mengganggu kamu ketika kamu sedang berperang” Hamida berusaha menengahi situasi “Sekarang paling tidak ibu akan makan sesuatu” Salima nimbrung pembicaraan mereka “Apa ?” Jalal kaget “Ibu sangat keras kepala, ibu bilang sampai kamu tidak pulang maka ibu tidak akan makan apapun” Jalal menatap ibunya haru kemudian mulai menyuapkan sepotong buah apel ke Hamida “Semua masalah akhirnya berakhir disini karena kamu telah kembali, Jalal ... lalu mana cucu cucuku ?”, “Mereka melalui jalur yang berbeda, karena kami telah menang maka kami menerapkan aturan baru dinegara negara kekuasaanku dan mereka saling bergandengan tangan sambil menyampaikan aturan tersebut” Jalal kembali menyuapkan apel itu ke Hamida, tepat pada saat itu Jodha menemui mereka semua “Salam ibu” semua yang ada disana terkejut dengan penampilan Jodha, Jalal juga hanya melihatnya acuh “Ratu Jodha, kamu tadi pergi ke Mandir kan ? Lalu bagaimana bisa kamu berpakaian seperti ini dan bagaimana kamu bisa datang bersama Yang Mulia ?” tanya Salima sambil menghampiri Jodha, Jodha hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Salima “Ayoo kamu jawab pertanyaannya” Jalal ikut mendekati Jodha “Katakan padanya bagaimana kamu bisa kembali pulang bersamaku ? Apakah kamu membawa Parsad dari Mandir ?” Jodha tetap diam saja tidak menjawab pertanyaan Jalal, Jodha hanya memandang Jalal dengan sedih “Ratu Jodha tadi tidak pergi ke Mandir” semua yang ada disana memandang kearah Jodha termasuk Hamida dan Gulbadan “Ibu, Ratu Jodha ini pergi ke Dargah untuk mengubah agamanya, untuk menerima Islam sebagai agamanya” semua yang ada disana terkejut terlebih Hamida “Untung saja aku ada disana waktu itu dan segera menghentikannya, Ratu Jodha telah melawan suaminya sendiri, kekasihnya, dia melanggar janjinya, aku tidak tahu mengapa dia melakukan ini semua, aku tidak akan menyalahkan siapapun untuk masalah ini karena dia tidak menganggap penting janjiku maka bagaimana bisa dia mendengarkan orang lain ?” Salima merasa iba terhadap Jodha, dia bisa merasakan bagaimana perasaan Jodha saat ini, sementara Rukayah malah tersenyum senang mendengar Jodha dimarahi oleh Jalal didepan semua orang “Ratu Jodha telah membuat aku malu, dengan alasan inilah aku maju berperang, tapi dia menyerah dengan alasan itu !” sesaat Jalal melirik kearah Jodha yang masih diam membisu “Aku capek !” kemudian Jalal pergi meninggalkan mereka semua, Hamida sangat sedih dan merasa bersalah atas semua yang dialami Jodha.

Rukayah sedang berdandan dikamarnya dibantu oleh Hoshiyar “Pertama Ratu Jodha menolak untuk mengubah agamanya dan sekarang malah menyetujuinya” ujar Hoshiyar sambil merapikan rambut Rukayah didepan cermin hias “Itu tidak jadi masalah, apapun yang dia lakukan, pasti aku dukung ... saat ini Jalal sedang marah padanya maka dia tidak akan pergi kekamar Ratu Jodha, oleh karena itu aku yang akan menemuinya dan menemaninya malam ini” Rukayah tersenyum senang dan sangat yakin kalau rencananya pasti akan berhasil

Sementara itu, Jalal sedang berada dikamar mandi kerajaan bersama para pelayannya yang memandikan Jalal, Jalal yang sedang meminum anggur tiba tiba teringat ketika dia melihat Jodha di Dargah saat hendak mengubah agamanya “Pergilah kalian semua, aku ingin sendiri” Jalal menyuruh para pelayannya pergi meninggalkannya seorang diri, tak lama kemudian Rukayah menemuinya sambil tersenyum senang, Rukayah mendekati Jalal dan menyentuh bahunya “Aku bilang pergilah !”, “Jalal, ada masalah apa ?” Rukayah merasa tersinggung dengan ucapan Jalal “Rukayah, aku minta maaf ... kamu tahu kan”, “Baiklah, aku tidak akan membahasnya”, “Kejadian ini sungguh sangat melukai perasaanku, aku telah berperang agar tidak ada seorangpun yang akan dipaksa untuk mengubah agamanya dan ketika aku kembali, aku benar benar tidak tahan melihatnya” Rukayah mendengarkan dengan seksama, tak lama kemudian Jalal sudah mengenakan kimono handuknya dan berkata “Lebih baik aku pergi sekarang”, “Tapi Jalal ...” Rukayah berusaha mencegah Jalal yang hendak meninggalkannya, namun Jalal tidak menggubris Rukayah dan pergi begitu saja, Rukayah benar benar kesal atas perlakuan Jalal “Jalal, kamu tidak pernah punya waktu untukku bahkan cintapun tidak !” bathin Rukayah kesal dalam hati

Dikamar Jodha, Jodha sedang berdandan dibantu oleh Moti yang menyisir rambutnya “Moti, Yang Mulia sedang marah sama aku dan aku adalah penyebab kemarahannya, apakah aku telah melakukan hal yang buruk ?”, “Pada situasi seperti ini, keputusanmu tidak benar benar salah, Jodha ... aku yakin suatu saat nanti Yang Mulia pasti akan mengerti juga, hiburlah dia” ujar Moti sambil terus menyisir rambut Jodha yang panjang dan ketika Moti hendak mengikat rambut Jodha, Jodha menolak “Moti, jangan ikat rambutku, Yang Mulia paling suka melihat rambutku yang terurai seperti ini” tak lama kemudian Jodha menemui Jalal dikamarnya, setelah salah seorang pelayan mengabarkan ke Jalal kalau Jodha ingin bertemu “Ya, suruh dia masuk” saat itu Jalal sedang meminum segelas anggur “Yang Mulia, apakah kamu masih marah padaku ?”, “Apakah kamu ingat ketika dulu kita berjanji dalam pernikahan kita ?”, “Ya, aku ingat bahwa istri harus menuruti perintah suami, harus menemaninya hingga ajal memisahkan mereka” ujar Jodha sambil duduk disebelah Jalal “Aku rasa seharusnya janji itu dihilangkan saja dari perjanjian pernikahan jadi tidak perlu untuk dituruti”, “Aku tahu kalau aku telah melakukan kesalahan, kamu bisa menghukum aku tapi jangan marah padaku” Jodha sangat menyesal atas semua yang telah dilakukannya “Setelah semua ini kamu menginginkan aku tidak marah padamu ? Baik ! Aku tidak akan kesal padamu, Ratu Jodha” ujar Jalal sambil berdiri dan masih memegang gelas yang berisi anggur “Perlakuanmu itu menyakiti hatiku, Yang Mulia” Jodha juga ikutan berdiri mendekati Jalal “Ratu Jodha, sebelum aku mengatakan sesuatu yang tidak pantas terhadapmu, lebih baik kamu pergi dari sini” ujar Jalal sambil mengelus rambut Jodha “Marahlah padaku, Yang Mulia ... tegurlah aku tapi jangan minta aku untuk pergi meninggalkanmu, aku ingin bersamamu” ujar Jodha sambil memegang tangan Jalal “Bagaimana bisa aku menentang perintahmu ? Kamu telah melakukan hal ini akan tetapi aku tidak akan melakukannya, baiklah ,,, tetaplah disini dan aku yang akan pergi dari sini” ujar Jalal sambil berlalu meninggalkan Jodha. Sinopsis Jodha Akbar episode 500 by Sally Diandra

Bagikan :
loading...
Back To Top