Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 532 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 532 by Sally Diandra. Di kamar Jodha, Jodha yang masih kerasukan arwah Laboni berkaca di meja riasnya, dilihatnya tangan Jodha yang terbakar ketika melakukan pemujaan untuk Dewa Khrisna “Huh ! Tubuh ini sangat penting untuk mendapatkan Jalal, aku harus merawatnya” diambilnya salep untuk luka kemudian dibalurkan salep itu di telapak tangan Jodha sambil tersenyum sinis seraya berkata “Saatnya telah tiba, aku ingin menikmati malam ini” ujar Jodha sambil menyeringai senang, ketika hendak melepas perhiasannya, Jodha teringat pada Moti dan memanggilnya lantang “Motiiiii !!!!” Moti segera menghampiri Jodha dengan perasaan bingung, Jodha menunjukkan tangannya “Jodha, ada apa dengan kamu ? Semua orang merasa khawatir dengan perangaimu yang berubah menjadi aneh seperti ini” ujar Moti cemas “Diam kamu, Moti ! Kamu itu cuma pelayan ! Jadi kamu harus mengerti batasanmu !” bentak Jodha sambil melirik Moti melalui kaca riasnya, Moti heran dan gelisah dengan perangai Jodha “Sudah saatnya pesta perayaan jadi bantu aku berdandan” Moti bingung dan gugup menghadapi Jodha, ketika Moti hendak memakaikan gelang ke tangan Jodha, Jodha marah “Bukan itu ! Bagaimana sih kamu ? Ini kalungku ! Lepaskan !” Moti segera melepas kalung Jodha dan membantu Jodha berdandan.

Sementara pada saat itu Jalal sedang bertemu dengan tiga menterinya, Todar Mal, Abu Fazal dan Rahim “Kita akan menyerang Maharana Pratap, kita akan menekan dia kali ini” ketiga menteri Jalal mendengarkan ucapan Jalal dengan seksama “Tapi aku akan menghabiskan waktuku dengan para istriku dulu” ujar Jalal kemudian berlalu meninggalkan mereka “Kita harus menemukan bukti bukti yang bisa menentang Shahabudin” ujar Abu Fazal ketika Jalal sudah meninggalkan mereka “Iya betul ! Kita mempunyai suatu rencana” ujar menteri yang lain

JA logo 100Dihalaman istana ketika Rukayah hendak menuju ke ruang perayaan pesta ulang tahunnya, ditengah jalan Rukayah berpapasan dengan Jodha yang memandangnya sinis “Jodha, lihat saja nanti, kamu telah menghancurkan malamku maka sekarang aku akan menghancurkan setiap malammu !” ujar Rukayah sinis “Aku tahu apa yang akan kamu lakukan nanti dan aku akan menjawab perlakuanmu, kita lihat saja nanti !” ujar Jodha dengan senyum sinisnya

Di ruang pesta perayaan ulang tahun Rukayah, semua orang telah hadir disana termasuk Hamida, Salima dan Rukayah, saat itu Jodha baru memasuki ruangan tersebut dengan langkah gontai dengan tatapannya yang angkuh sambil sesekali mengibaskan dupattanya, dari kejauhan semua orang memandangnya dengan heran termasuk Hamida “Ibu, lihat itu Ratu Jodha sudah datang” ujar Salima “Biarkan saja, Salima” ujar Hamida, ketika Jodha hendak duduk di kursinya, Jodha memberikan salam pada Hamida dan Salima, mereka membalas salam Jodha, sementara Rukayah hanya diam saja dan tatapan penuh kebencian “Kenapa Jodha menyalami aku dari kejauhan ?” Hamida merasa heran, kemudian Jodha duduk di kursinya dengan tatapan yang angkuh sambil mengibaskan dupattanya kembali. Tak lama kemudian Jalal memasuki ruangan pesta, semua orang berdiri sambil memberikan salam, Jodha pun memberikan salam ke Jalal dengan senyuman manisnya, Jalal membalas salam mereka dan duduk di singgasananya “Ratu Rukayah, katanya kamu ingin menunjukkan padaku sesuatu hari ini, apa itu ?” Rukayah segera berdiri dan mendekat ke arah Jalal dan berdiri disana seraya berkata

“Yang Mulia, selama ini kamu selalu memberikan kami hadiah, maka sekarang aku mencoba untuk membuat kamu bahagia dengan hadiahku ini” ujar Rukayah senang, sementara Jodha mulai tidak suka dengan permainan Rukayah, Rukayah memanggil penari untuk menari di depan Jalal, penari itu hadir ditengah tengah mereka termasuk Anarkali dan pemain musik, Anarkali yang menjadi penyanyi. Penari itu mulai menari tarian Khathak, Jalal senang melihatnya, dari kejauhan Rukayah melirik kearah Jodha sambil berkata dalam hati “Tak lama lagi Jalal akan melupakan Jodha karena penari ini” sementara Jodha yang sedang melihat penari itu menari juga berkata dalam hati “Aku bukan Jodha, Rukayah ... yang bisa menghadapi semuanya dengan pasrah” tatapa Jodha semakin tajam ke arah Rukayah “Bagus ! Bagus sekali, Ratu Rukayah” Jalal memuji penari tersebut, Rukayah tampak senang, semua orang yang hadir disana juga senang melihat tarian penari ini yang lemah gemulai, sedangkan Jodha tidak suka ketika Jalal memuji penari itu, Jodha juga tidak suka karena Rukayah membawa penari itu menari didepan Jalal.

Jodha segera berdiri dari kursinya menuju ke arah penari yang masih asyik melakukan gerakan tariannya, semua orang terlihat bingung dengan sikap Jodha, Jodha langsung menampar penari itu keras, penari tersebut merasa bingung dan tidak tahu apa salahnya, sementara semua orang yang melihat kemurkaan Jodha merasa heran dan bingung, termasuk juga Jalal dan Hamida “Jadi ini yang dinamakan menari ?” ujar Jodha lantang kemudian berbalik menghadap ke Jalal “Aku akan menunjukkan pada kalian bagaimana caranya menari” Rukayah merasa geram karena kembali Jodha menyabotase acaranya, Jodha mendekati Anarkali dan mengambil sepasang gelang kaki, Moti dan Hoshiyar juga ikut ikutan heran dan bingung dengan perangai Jodha yang berubah 360 derajat. Tak lama kemudian Jodha mulai menari di depan semua orang, semua orang merasa bingung dan malu, apalagi tarian Jodha begitu menggoda dengan mendekati Jalal sambil membelai wajahnya dan merebahkan tubuhnya di tangan Jalal, Jalal hanya diam saja sambil terus memperhatikan tarian Jodha yang lemah gemulai dan sedikit menggoda dengan kerlingan matanya, Jalal malu melihatnya sambil menutupi wajahnya, dirinya tidak tahu harus berkata apa, sementara Rukayah semakin benci melihat Jodha “Rasanya ada yang tidak beres pada diri Jodha” bathin Hamida dalam hati.

Setelah selesai pesta perayaan, Jodha masuk ke kamarnya sambil tertawa terbahak bahak dan memutar mutar tubuhnya “Rasakan kamu Rukayah ! Aku telah membuat kamu terdiam !” tak lama kemudian Jalal menemui Jodha di kamarnya “Yang Mulia, kamu suka kan dengan tarianku tadi ?” ujar Jodha sambil merebahkan kepalanya di bahu Jalal dengan manja “Sekarang kamu setuju kan bahwa tidak ada penari yang bisa menari di depanku ?” ujar Jodha manja “Ratu Jodha, aku tidak suka jika kamu membandingkan dirimu sendiri dengan penari” Jodha mengangkat kepalanya dengan muka cemberut seraya berkata “Kamu sudah memujinya” ujar Jodha dengan nada cemburu “Kamu kan tahu bahwa hanya kamu yang berada di dalam hatiku, aku tidak keberatan dengan tarianmu akan tetapi caramu menari didepan orang banyak dan juga membandingkan dirimu dengan seorang penari, itu tidak baik, Jodha” Jodha menatap Jalal tajam sambil menarik kalung Jalal kencang seraya berkata “Sudahlah biarkan saja” ujar Jodha sambil mengajak Jalal duduk di tepi tempat tidur “Yang penting sekarang aku telah menang dan aku ingin hadiahnya sekarang” ujar Jodha sambil memeluk Jalal dengan manja, Jalal tidak mampu berkata apa apa, Jalal hanya tersenyum melihat ulah Jodha yang begitu manja

Sementara itu, Hamida, Rukayah dan Salima sedang ngobrol di ruang keluarga “Aku tidak tahu mengapa Jodha melakukan ini semua” Hamida merasa bingung “Ibu, kita harus bicara dengan Jalal, daripada nanti dia berfikir bahwa kita telah membuat rencana untuk melawan Jodha” ujar Rukayah kesal “Baiklah, ibu akan bicara dengan Jalal besok

Keesokan harinya, Hamida, Salima dan Rukayah menemui Jalal dikamarnya “Jalal, kamu harus tahu kalau Jodha itu telah menghina almarhum ayahku dan dia juga telah menampar aku, jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanya pada Ratu Salima” ujar Rukayah dengan nada marah “Ya itu benar, Yang Mulia ,,, apa yang dikatakan oleh Rukayah itu benar !” Salima mengiyakan ucapan Rukayah “Cuma Jodha yang bisa menjawab mengapa dia melakukan ini semua” tepat pada saat itu Jodha menemui mereka, Laboni terus menghantui Jodha dengan berjalan di belakangnya, Jodha memberikan salam pada mereka semua, Laboni juga ikut ikutan memberikan salam dengan gaya yang mengejek “Ratu Jodha, Ratu Rukayah telah menuduh kamu bahwa kamu telah menghina dirinya dan Ratu Salima dan kamu juga telah menampar Ratu Rukayah, apakah itu benar ?” Jodha terkejut mendengar ucapan Jalal, Jodha menatap ke arah Laboni yang tersenyum mengejek kearahnya “Yang Mulia, sebenarnya ...” belum juga Jodha menyelesaikan kalimatnya, di depannya Jodha melihat Laboni sedang memegang sebuah pisau dan memberikan kode dengan gerakan tangannya memotong leher, kemudian Laboni mendekati Hamida dan memberikan isyarat ke Jodha kalau Jodha mengucapkan sesuatu maka Hamida akan mati dengan gerakan tangannya memotong leher Hamida, Jodha panik dan tegang “Yang Mulia, aku tidak melakukan apa apa” suara Jodha tercekat, Rukayah marah “Dia bohong, Jalal !” Jodha semakin gelisah “Cukup, Ratu Rukayah ! Mengapa kamu menuduh Ratu Jodha ? Ratu Jodha tidak pernah berkata bohong !” Jalal malah marah ke Rukayah “Tapi Jalal ...” Rukayah berusaha membela dirinya “Apakah karena Ratu Jodha sering menghabiskan waktunya bersamaku maka kamu menuduh dia seperti ini ? Cukup ! Cukup Ratu Rukayah” Rukayah kesal karena Jalal malah membela Jodha “Sebentar lagi ada tamu yang akan datang dari Multan, aku harus menyiapkan penyambutan untuk mereka, aku ingin kalian berada disana !” Jodha yang merasa tidak enak dengan semua orang, segera meninggalkan tempat tersebut sambil memberikan salam, Laboni juga ikut ikutan memberikan salam dengan wajahnya yang tidak bersalah, tak lama kemudian Jalal juga ikut meninggalkan tempat itu. Sepeninggal mereka, ketiga ratu tersebut merasa heran dengan perangai Jodha “Mengapa Ratu Jodha berbohong ?” Salima merasa heran “Kenyataan yang sebenarnya akan segera terungkap” ujar Hamida kesal

Di luar istana, Salim sedang berjalan jalan dengan Anarkali “Kamu tahu kalau aku telah berbicara dengan ibuku dan dia setuju dan siap dengan pernikahan kita” Anarkali merasa haru mendengar ucapan Salim kemudian memeluk Salim erat dan duduk bersimpuh berdua di bawah pohon “Tidak lama lagi kamu akan melupakan masa masa lalumu yang kelam dan kamu akan menjadi pendamping hidupku dan juga ratu India” ujar Salim sambil melepas turbannya dan mengenakan turban tersebut pada kepala Anarkali “Kamu terlihat sangat cantik sebagai seorang ratu” Anarkali semakin tidak bisa berkata kata dan hanya memeluk Salim sambil menangis “Aku ingin kamu percaya bukan menangis”, “Aku hanya tidak bisa percaya, bagaimana bisa ibumu menyetujui hubungan kita secepat ini ?” Salim tersenyum seraya berkata “Ibuku sangat mencintai ayahku makanya dia mengerti tentang cinta kita, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dirimu” Anarkali menatap kekasihnya penuh haru “Aku tidak ingin meninggalkan moment indah ini dimana hanya ada kamu dan aku, dimana disana terdapat banyak kebahagiaan” Anarkali kembali memeluk Salim

Dikamar Jodha, saat itu Laboni tertawa terbahak bahak sambil memutar mutar tubuhnya seraya berkata “Dia itu suamiku juga, Jodha ... jadi kita bisa membagi dirinya” Jodha merasa marah dan kesal terhadap Laboni “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan tapi mengapa kamu menghancurkan imageku ? Aku telah melayani semua orang untuk membuat tempat di hati semua orang, jauhi aku !”, “Kamu sebelumnya telah memiliki ini semua, maka dari itu aku tidak akan meninggalkanmu sekarang” ujar Laboni dengan nada marah, dari kejauhan Jalal melihat ini semua, Jalal melihat Jodha sedang berbicara seorang diri “Pergilah dari sini ! Pergi !” Jodha melemparkan sesuatu ke arah Laboni sambil berteriak lantang, Jalal menghampiri Jodha, Laboni menatap Jalal dengan tatapan penuh cinta “Ratu Jodha, aku tahu kamu sedang khawatir, Ratu Rukayah telah melakukan kesalahan, aku berharap kamu tidak terluka karenanya” ujar Jalal, sementara Laboni berada dibelakang Jalal dengan tatapannya yang penuh cinta sambil sesekali membelai rambut Jalal namun Jalal tidak mengetahui keberadaan Laboni “Ratu Rukayah bisa saja melakukan ini semua untuk mencuri perhatianku, dia memang suka berbuat seperti ini, aku akan mengurusi semua ini dan malam ini tamu tamuku akan datang jadi aku ingin kamu membuatkan makanan yang enak untuk mereka” Jodha merasa tidak enak dengan Jalal “Iya, aku akan melakukannya, Yang Mulia” Jalal lalu meninggalkan Jodha, Laboni segera menghampiri Jodha dengan kedua bola matanya yang berbinar terang “Waaah .... pesta kerajaan ?? Itu pasti akan menyenangkan” ujar Laboni, Jodha panik mendengarnya... Sinopsis Jodha Akbar episode 533 by Sally Diandra.

Bagikan :
loading...
Back To Top