Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 502 by Sally Diandra

Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 502 by Sally Diandra. Diruang Dewan - E - Khaas, Syeh Mubarak berkata pada Jalal “Yang Mulia akan memberikan mahar ke Ratu Jodha berupa sekarung koin emas, satu ton emas, beberapa perhiasan dan lain sebagainya”, “Hanya itu saja ?” Jodha tidak terima dengan mahar yang diberikan oleh Jalal “Aku tidak menginginkannya, aku ingin yang lebih dari itu !” semua yang hadir disana terkejut mendengar permintaan Jodha “Hal ini ditulis sesuai dengan masa pernikahan kalian berdua, Ratu Jodha”, “Itu masih kurang ! Ketika seorang gadis datang ke rumah mertuanya, dia membuat sebuah hubungan yang baru, aku telah menjalin hubungan dengan ibu, Yang Mulia, juga dengan istri istri yang lain dan semua orang yang ada disini, apakah hubungan ini akan berakhir setelah perceraian ini ? Ini tidak adil !” ujar Jodha ketus “Hubungan seperti apa yang kamu bicarakan, Ratu Jodha ? Ibu tidak mengambil kamu sebagai menantunya, aku menceraikan kamu karena peraturan !” Jalal mulai kesal ke Jodha “Jika kasusnya seperti itu maka mahar ini masih kurang, aku menginginkan mahar yang lebih banyak” Jodha tetap bersikeras mendapatkan mahar yang lebih banyak “Baiklah, kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan, Ratu Jodha ! Aku akan mengeluarkan semua harta bendaku untuk kamu !” Jalal kemudian menyuruh pelayannya untuk membawakan emas yang lebih banyak, seorang prajurit datang keruang sidang dengan sekotak penuh emas “Apakah itu sudah cukup ?”, “Tidak ! Aku minta yang lebih lagi !” Jalal kemudian menyuruh pelayannya untuk membawakan perhiasan, semua yang hadir disana sangat terkejut melihat tingkah Jodha termasuk Hamida, Hamida kemudian berdiri dan melepas anting anting yang dikenakannya dan meletakkannya dimeja dekat barang barang yang diberikan untuk Jodha, Jalal kelihatan marah melihatnya.

JA logo 100Jodha menatap Hamida dengan perasaan pilu dan sedih kemudian memandang kearah emas dan perhiasan yang ada didepannya, Jodha keluar dari bilik ratu tersebut dan menghampiri meja yang berisi mahar yang diberikan oleh Jalal untuknya, Jodha lalu mengambil anting anting Hamida yang diletakkan Hamida dimeja itu “Sekarang aku tidak ingin apa apa lagi, Yang Mulia ... Ini adalah maharku” ujar Jodha sambil memandangi anting anting itu dengan sedih “Tapi itu hanya sebuah anting anting, Ratu Jodha ... aku telah memberikan kamu mahar yang sangat banyak”, “Bagiku hanya ini yang jadi masalah, ibuku telah memberikan benda ini ke aku, ini adalah anting anting Mariam Makani, mereka ini sangat berharga jadi tidak ada yang lebih berharga dibanding anting anting ini, aku tidak menginginkan yang lain” Salim menatap ibunya dengan perasaan haru, begitu pula Salima yang meneteskan airmata, sedangkan Rukayah tersenyum sinis, sementara Hamida merasa sangat bersalah pada Jodha, Hamida menangis, dari bilik para ratu Jodha berkata “Aku menerima perceraianmu dan aku siap untuk pergi”, “Silahkan !” ujar Jalal mantap, ketika Jodha hendak pergi meninggalkan mereka, Hamida langsung menghentikannya ketika Jodha melewati Hamida dengan menunduk “Ratu Jodha ! Berhenti ! Kamu tidak akan pergi kemana mana dan Jalal tidak boleh menceraikan kamu !” Hamida langsung menghampiri Jalal “Kamu tidak bisa menceraikan Jodha ! Ini adalah perintah ibumu !” Jalal tertegun mendengar permintaan ibunya kemudian menyuruh semua orang yang berada diruangan itu untuk pergi meninggalkan mereka kecuali anggota keluarga kerajaan, akhirnya para menteri, ulama dan prajurit meninggalkan mereka.

Sepeninggal para menterinya, Jalal berkumpul dengan keluarganya “Mengapa, ibu ? Aku adalah Raja, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan aku !” ujar Jalal marah “Aku adalah Mariam Makani dan kamu tidak akan menceraikan Jodha, apa yang telah dia lakukan ? Hanya karena di menentang kamu untuk pertama kalinya ? Jodha selama ini selalu melakukan sesuatu hal untuk aku dan kamu, Jalal !” Hamida mulai marah ke Jalal “Dia telah menentang aku, ibu ... dia mencoba untuk mengubah agamanya” Hamida merasa sedih “Dia telah dipaksa oleh aku, jujur saja kalau aku yang memaksanya untuk mengubah agamanya, aku ingin menghentikan perang ini maka aku mogok makan dan anakku Jodha yang sangat menyayangi aku tidak punya pilihan lain selain mengubah agamanya, bukan dia yang bertanggung jawab tapi akulah yang bertanggung jawab, aku tidak tahu kalau Jodha akan menghadapi hukuman seperti ini, ini semua akulah penyebabnya, aku adalah ibunya Raja dan aku memerintahkan kamu untuk tidak menceraikan Jodha !”

Jalal tersenyum nakal, semua yang hadir disana terkejut melihat tingkah Jalal “Aku tidak pernah mengerti bagaimana hubungan antara ibu mertua dan menantu perempuannya, aku mau minta maaf pada kalian semua, aku telah melakukan sebuah sandiwara dengan pura pura menceraikan Ratu Jodha, aku tidak pernah berniat untuk bercerai, aku tahu kalau Ratu Jodha itu dipaksa” Jalal mencoba menjelaskan pada keluarganya “Ibu memang tidak pernah menceritakan hal ini padaku tapi aku bisa merasakannya, aku hanya ingin membuat ibu meyakini bahwa apa yang telah ibu lakukan itu salah, ibu telah menentang anak perempuan ibu sendiri, padahal ibu biasanya melawan aku, kalian berdua ini sebagai contoh sebuah hubungan antara ibu dan anak perempuannya, kalian berdua telah memberikan aku kekuatan untuk bertarung dalam perang jadi itulah mengapa aku melakukan perang ini” Hamida menangis dan berkata pada Jodha “Jodha, ibu minta maaf karena ibu telah melakukan kesalahan” ujar Hamida sambil menangkupkan tangannya didepan dadanya sendiri meminta maaf ke Jodha “Ibu tangan ini bukan untuk meminta maaf tapi hanya untuk memberikan rerstu saja, jangan katakan permintaan maafmu” mereka berdua akhirnya berpelukkan satu sama lain, semua yang hadir disana tersenyum senang termasuk Salim dan Salima, sementara Rukayah tidak suka melihat pemandangan ini “Jika semuanya sudah baik sekarang antara kalian berdua maka aku juga ingin meminta maaf padamu, Ratu Jodha” Jodha tidak terima dengan perlakuan Jalal, Jodha segera meninggalkan ruang sidang tersebut dengan perasaan kesal “Jalal, kamu harus bisa menghibur anak perempuanku ! Atau aku tidak akan melihat wajahmu !” ujar Hamida sambil menangis, Jalal malah bingung melihat ibunya “Ibu ini memang aneh, dulu ibu tidak ingin melihat wajah Jodha dan sekarang demi dia, ibu tidak akan melihat wajahku” ujar Jalal kemudian pergi menyusul Jodha ke kamarnya.

Jalal menemui Jodha dikamarnya, saat itu Jodha sedang mengepak barang barangnya kedalam peti “Aku mau pergi !” Jalal bingung melihat keseriusan Jodha “Itu hanya sandiwara saja, Ratu Jodha” Jodha marah ke Jalal “Buat kamu semuanya memang hanya gurauan belaka, dengan mudahnya kamu mengatakan bahwa kamu tidak mencintai aku lagi selamanya, kamu akan menceraikan aku, apakah kamu pernah berfikir bagaimana terlukanya hatiku ? Aku tidak setuju dengan pendapatmu sekali saja maka kamu langsung memutuskan untuk menceraikan aku ! Kamu telah menyakiti hatiku sepanjang waktu” Jalal merasa bersalah telah mempermainkan perasaan Jodha “Kamu tahu kan kalau aku tidak bermaksud demikian ?” Jodha sangat marah ke Jalal kemudian mendorong bahu Jalal kebelakang “Pergi ! Pergi sana !”, “Pergilah bersamaku sekali ini saja” Jalal sangat berharap Jodha mau memaafkan dirinya “Aku tidak mau pergi bersamamu !” Jalal memaksa Jodha sambil menggenggam tangannya erat dan menggeretnya keluar kamar menuju ke teras yang berada ditengah halaman “Lihatlah keatas ke langit langit itu, lihatlah bintang bintang itu !” Jalal menunjukkan tangannya ke langit “Selama mereka ada dilangit maka aku tidak akan meninggalkanmu, aku hanya melakukan sebuah sandiwara sehingga hubunganmu dengan ibu menjadi baik kembali”, “Seperti juga bintang dilangit, cintamu akan menghilang dipagi hari, menceraikan aku dan meninggalkan aku !” Jodha masih kesal dengan Jalal “Aku akan mendapatkan banyak sekali kekayaan dan akan hidup dengan damai” Jalal bingung dengan ucapan Jodha “Jadi kamu benar benar akan meninggalkan aku ?”, “Aku ingin meninggalkan semua ketegangan ini” ujar Jodha ketus “Apa yang kamu inginkan ? Aku bisa mengucapkan permintaan maaf seperti Aram Bano, duduklah dilututku” Jodha tersenyum “Kamu ingin aku menghentikan semua ini ?”, “Ya ! Tentu saja !” jawab Jalal lantang “Apakah kamu akan melakukan semua yang aku katakan ?”, “Ya ! Semuanya !” Jodha tersenyum “Apakah kamu punya waktu ?”, “Aku akan meluangkan waktuku untuk kamu” Jalal berusaha membujuk Jodha agar mau memaafkannya “Baiklah, aku mempunyai beberapa persyaratan untuk kamu, ketika aku mengundang kamu untuk berjalan jalan ditaman denganku maka kamu harus meninggalkan pekerjaanmu dan segera menemuiku” Jalal setuju dengan permintaan Jodha, kemudian Jodha juga mengajukan syarat syaratnya yang lain, Jalal menyetujui semua keinginan Jodha karena bagaimanapun juga Jalal masih khawatir terhadap Jodha, setelah Jodha merasa puas mengutarakan semua syarat yang diajukannya ke Jalal kemudian Jodha berkata “Sekarang, pegang telingamu dan merunduk untuk meminta maaf”, “Seseorang bisa melihat aku berbuat seperti itu disini, lebih baik kita masuk kedalam kamar saja, bagaimana ?” Jalal merasa malu harus melakukan hal tersebut ditengah taman itu “Kamu telah melukai perasaanku didepan semua orang maka mintalah maaf didepan semua orang juga !”, “Baiklah, kalau kamu menginginkannya maka aku akan melakukannya” Jalal akhirnya menyerah dengan permintaan Jodha, Jalal memegang kedua telinganya dan ketika hendak berlutut, Jodha segera menghentikannya “Yang Mulia, jangan ! jangan katakan cerai lagi”, “Tidak akan pernah, Ratu Jodha” Jodha segera memeluk Jalal “Kamu tahu, semuanya mendukung kamu, Salim juga mengatakan jika aku menceraikan ibunya, dia menyebut ‘maasa’ (Ibu) terhadapmu, maka dia tidak mau menjadi seorang raja !” Jodha mengendurkan pelukkannya “Apa ? Dia menyebut aku maasa ?” Jalal mengangguk membenarkan, Jodha sangat senang sekali mendengarnya “Anakku telah kembali padaku” ujar Jodha haru kemudian kembali memeluk Jalal, Jalalpun membalas pelukkan Jodha erat. Sinopsis Jodha Akbar episode 503 by Sally Diandra.

Bagikan :
loading...
Loading...
Back To Top