Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 549 by Sally Diandra

Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 549 by Sally Diandra.  Semua keluarga kerajaan sedang berkumpul mengelilingi Maan Bai yang sudah siap di hias dengan hiasan Mehndi ditangannya, ketika Hamida meminta Jodha untuk menghias Mehndi di tangan Maan Bai, Jodha menolak “Tidak, tidak, ibu ,,, aku tidak bisa menghias mehndi di tangan Maan Bai, itu bukan hakku” semua orang yang hadir disana terkejut begitu mendengar ucapan Jodha “Kenapa Jodha ? Kenapa bisa begitu ?” Jodha tersenyum menatap mertuanya “Bagaimanapun juga, selain aku masih ada Ratu Rukayah dan Ratu Salima yang mempunyai hak yang sama pada Salim, maka mereka berdua juga mempunyai hak yang sama dalam menghias mehndi ditangan Maan Bai” semua orang merasa lega dan tersenyum, terutama Rukayah dan Salima, akhirnya mereka berkumpul mengelilingi Maan Bai dan mulai menghiaskan mehndi di tangan Maan Bai, ketika mereka sedang asyik menghias, Maan Bai melihat Anarkali masih berdiri sambil melihat mereka “Anarkali ! Kemarilah, hiaskan mehndi ditanganku” Anarkali tersenyum dan segera duduk disamping Maan Bai kemudian mulai menghiaskan mehndi ditangan sahabatnya itu, tepat pada saat itu Aram Bano datang menghampiri Jodha “Ibuuuu ...” Aram Bano segera mendekat ke Jodha, tanpa sengaja Aram Bano menyenggol tangan Anarkali, hingga hiasan mehndi ditangan Maan Bai jadi rusak berantakan “Maafkan aku, putri Maan Bai, aku tidak sengaja” ujar Anarkali sedih “Tidak apa apa, lihat hiasan mehndinya ada ditanganmu juga, itu berarti tidak lama lagi kamu juga akan segera menikah” ujar Maan Bai sambil tersenyum, sementara anggota keluarga lainnya hanya diam sambil memperhatikan Anarkali yang salah tingkah “Aku akan membersihkannya” Anarkali segera berdiri dan meninggalkan mereka, Jodha melihat kepergian Anarkali dengan perasaan sedih dan berkata dalam hati “Ini benar benar sulit, mehndi itu akan ada di tangan Anarkali andai saja Yang Mulia menyetujui hubungan mereka” bathin Jodha sedih

Ketika Anarkali keluar dari ruangan tersebut dan menuju ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, di koridor tengah istana, Anarkali bertemu dengan Salim yang langsung berhenti dan memandangnya dengan perasaan sedih, Anarkali pun menatap Salim dengan mata berkaca kaca sambil memandangi tangannya yang kotor oleh mehndi, ketika Salim membuka tangannya hendak memeluk Anarkali, Anarkali segera melewati Salim begitu saja tanpa mempedulikan Salim kemudian berhenti sebentar, Salim berbalik memandang Anarkali yang berdiri membelakanginya, ketika Salim hendak mendekat kearah Anarkali, Anarkali segera pergi meninggalkannya, mata Salim berkaca kaca memandang kepergian Anarkali.

JA logo 100Jodha sedang berada dikamarnya sambil meniup niup tangannya yang baru saja di hiasi mehndi, tak lama kemudian Jalal menemuinya dengan muka cemberut “Ratu Jodha, mengapa kamu memanggil aku kemari ?” Jodha segera menyembunyikan kedua tangannya agar Jalal tidak bisa melihat hiasan mehndi ditangannya “Aku memanggilnya dengan maksud agar dia menyuapkan makanan untukku tapi dia malah memperlihatkan sifat egoisnya !” bathin Jodha kesal “Tidak ada apa apa !” ujar Jodha ketus “Ratu Jodha, aku tidak mempunyai banyak waktu, kalau begitu aku pergi” ketika Jalal hendak pergi, salah seorang pelayan menemui mereka seraya berkata “Ratu Jodha, saya telah membawakan makanan untuk anda” ujar pelayan sambil membawa baki makanan “Aku tidak ingin makan !” Jodha masih kesal dengan ucapan Jalal “Oh tidak ! Taruh makanan itu di meja ! Dan pergilah” pelayanpun menurut perintah Jalal, makanan tersebut diletakkannya di meja dan dia segera berlalu meninggalkan mereka “Ratu Jodha, kenapa kamu tidak mau makan ? Apakah karena aku kesal padamu karena kamu telah membuat aku menunggu cukup lama tadi malam ?” ujar Jalal ketus “Apakah itu kesalahanku ? Aram Bano yang tidak mau pergi dari kamar, Yang Mulia !” Jodha juga tidak kalah ketus “Baiklah, aku sudah tidak kesal lagi padamu tapi aku punya persyaratan, ketika kamu makan, kamu akan menyuapkan makanan itu ke aku, bagaimana ?” Jodha panik “Aku tidak bisa melakukannya, Yang Mulia” Jalal heran dan bingung “Apakah kamu ingin menunjukkan sifat egoismu, Ratu Jodha ?” Jodha kali ini mulai melunak “Aku benar benar tidak bisa menyuapkan makanan itu untukmu”Jodha memperlihatkan tangannya yang berhiaskan mehndi, Jalal takjb melihatnya “Subanallah ,,,” Jodha dan Jalal saling tersenyum “Aku memanggilmu karena aku ingin kamu menyuapi aku makanan itu”, “Indah sekali, Ratu Jodha ,,, aku tidak akan pernah ingin menghancurkannya, aku akan menyuapimu makanan ini” kemudian mereka berdua duduk bersisian di kursi dan Jalal mulai menyuapkan makanan ke mulut Jodha dengan tangannya sambil sesekali melihat kearah tangan Jodha yang berhiaskan mehndi.

Malam harinya, Jalal dan Jodha sedang tidur diranjang mereka, tiba tiba seseorang datang menyelinap masuk ke dalam kamar mereka melalui jendela kamar, orang tersebut menggunakan cadar diwajahnya dan menyerang Jalal dengan belatinya, rupanya kejadian itu adalah mimpi Jodha, Jodha meracau ketakutan sambil memanggil manggil nama Jalal “Yang Mulia ,,, Yang Mulia ,,, jangan Yang Mulia” Jalal yang tertidur disebelahnya mendengar igauan Jodha dan segera membangunkannya “Ratu Jodha, kamu kenapa ?” Jodha kaget dan segera bangun dengan perasaan gelisah, dilihatnya suaminya sedang duduk di sampingnya dengan tatapan heran “Yang Mulia, kamu baik baik saja ?” Jodha memeriksa tubuh Jalal, andai saja ada yang terluka “Aku baik baik saja, Ratu Jodha ,,, kamu pasti bermimpi buruk barusan” Jodha masih merasa ketakutan “Aku merasa ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi, Yang Mulia”, “Tidak mungkin, Ratu Jodha ,,, beberapa hari ini adalah hari yang baik untuk kita, anak kita akan segera menikah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ayoolah tidur lagi, tidurlah sini” Jodha menurut ketika Jalal memintanya untuk tidur dalam dekapan tangannya.

Keesokan harinya, Jodha menemui Maan Bai yang sedang berendam dikamar mandi yang sedang melakukan ritual ubtan (semacam lulur mandi) “Aku akan membalurkan ubtan ini ke keponakanku” ujar Jodha, saat itu Anarkali juga ada disana menemani Maan Bai “Jodha, kamu tidak bisa mengunjungi ritual pernikahan ini dua duanya, dia itu memang keponakanmu tapi menantumu juga” ujar ibunya Maan Bai “Aku akan memenuhi keduanya, kak” Jodha langsung duduk di samping Maan Bai dan mulai membalurkan ubtan tersebut di lengan Maan Bai, sekilas Jodha melihat kearah Anarkali , Anarkali kembali sedih dan terharu sambil menyeka airmatanya.

Jodha sedang berada dikamarnya setelah selesai mandi, kedua pelayannya membantu mengeringkan rambut Jodha, tak lama kemudian Jalal menemui Jodha, begitu tahu suaminya menemuinya Jodha mengajak Jalal bermain serbuk Haldi (semacam serbuk kuning/kunyit), Jodha melemparkan serbuk haldi itu ke baju Jalal, Jalal kesal ketika dilihatnya bajunya kotor sambil berusaha membersihkan dengan tangannya “Sini biar aku bersihkan, aku hanya bercanda tadi, Yang Mulia” Jalal tersenyum nakal kearah Jodha “Kamu telah memulai permainan ini, jadi ,,,” Jalal secepat kilat membalurkan serbuk haldi itu ke pipi Jodha sambil tertawa senang “Hmmm ... kalau begini aku harus mandi lagi, aku tidak akan membiarkanmu, Yang Mulia” Jodha segera mengejar Jalal yang berlari menjauhi Jodha sambil berlari memutari ruangan seraya berkata “Jangan ! Jangan, Ratu Jodha ... Aku harus pergi ke sidang sekarang, jangan balurkan serbuk itu !” ujar Jalal ketakutan kemudian membalurkan lagi serbuk haldi ke pipi Jodha yang satunya, Jodha kesal karena tidak bisa membalurkan serbuk itu ke Jalal “Jangan marah, sayang ,,, ini aku balurkan serbuk ini di wajahku sendiri, ini lihat” Jalal lalu membalurkan serbuk itu di pipinya sendiri sambil tertawa senang “Lihat kan ? Semuanya baik baik saja kan ?” Jodha langsung memberikan serbuk itu lebih banyak lagi ke pipi Jalal sambil berkata “Nah, sekarang semuanya baik baik saja” mereka berdua tertawa bersama sama, mentertawakan ulah mereka berdua yang seperti anak kecil, Jalal kemudian memeluk Jodha sambil tertawa senang.

Di kamar Maan Bai, Anarkali sedang merias wajah Maan Bai seraya berkata “Kamu cantik seperti rembulan, sangat cantik”, “Kamu benar, Anarkali” tiba tiba Jodha sudah ada di belakang mereka “Sebagai restuku, aku telah membawa dupattaku ketika aku menikah dulu, aku ingin kamu mengenakannya,aku berdoa semoga pernikahanmu penuh kebahagiaan” Jodha segera memberikan dupattanya ke Anarkali agar memberikannya ke Maan Bai, kemudian Jodha meninggalkan mereka berdua bersama ibunya Maan Bai, Anarkali membantu Maan Bai mengenakan dupatta pemberian Jodha, Anarkali teringat ketika Salim mengatakan bahwa dirinya akan menjadi pendamping hidupnya, Anarkali membayangkan dirinya mengenakan dupatta tersebut sambil menangis haru “Kenapa kamu menangis, Anarkali ?” Anarkali kaget dan canggung ketika Maan Bai bertanya padanya “Hari ini sahabat baikku akan segera menikah maka aku menangis bahagia” Maan Bai tersenyum kemudian Maan Bai mencari cari gelang kakinya “Gelang kakiku hilang, aku tidak tahu dimana gelang kaki itu” Anarkali segera mengambil wadah gelang kakinya “Kamu pakai gelang kakiku ini saja” Anarkali teringat ketika Salim memberikan gelang kaki itu untuknya “Anggap gelang kakiku ini sebagai hadiah dengan begitu aku merasa berada disampingmu, jangan pikirkan tentang seorang penari yang memberi hadiah tapi ambillah sebagai hadiah dari seorang teman” ujar Anarkali haru “Jangan berkata seperti itu, hadiahmu adalah keberuntunganku, kamu ingat ketika kamu memberikan mang tikka (hiasan dikepala wanita India) milikmu, Salim menyukainya dan sejak hari itu dia juga menyukai aku, aku akan memasuki kehidupan yang baru dan gelang kaki ini merupakan berkah untukku” Anarkali tersenyum sambil membantu Maan Bai mengenakan gelang kaki itu.

Jalal sedang menemani Salim dikamarnya, Jalal membantu Salim berdandan “Sekhu, suatu saat nanti kamu akan bangga dengan keputusanmu ini, ayah sangat bahagia hari ini, hari yang paling membahagiakan dalam kehidupan seorang ayah adalah ketika anaknya lahir dan ketika anaknya menikah, ini adalah hari yang paling membahagiakan buatku” ujar Jalal sambil membantu Salim mengenakan turban sehra dikepalanya “Ayah yakin kalau Maan Bai akan memberikan keberuntungan buat kamu” ujar Jalal sambil mengambil untaian bunga penutup wajah Salim kemudian mengikatkan di kepala Salim “Kamu kelihatan sangat tampan, selamat ya untuk pernikahanmu” ujar Jalal sambil mencium kepala Salim, tepat pada saat itu salah satu pelayan datang menemui mereka dan mengabarkan kalau Jalal sudah ditunggu oleh keluarga Raja Bhagwandas, tak lama kemudian Jalal meninggalkan Salim.

Pooja dimulai, pendeta Hindu meminta Bhagwandas dan istrinya untuk mengenakan garland (rangkaian bunga) untuk Jalal dan Jodha, mereka berdua mulai mengenakan garland sambil berpelukan satu sama lain, Jalal dengan Bhagwandas dan Jodha dengan istri Bhagwandas, dari kejauhan Madhav melihat kebahagiaan mereka dengan perasaan marah, tepat pada saat itu Aram Bano menemui mereka sambil memanggil ibunya “Ibuuu ... Aku ingin bicara denganmu”, “Tidak sekarang, Aram Bano” ujar Jodha sambil menundukkan kepalanya kearah putri bungsunya itu “Aku ingin bicara dengan ibu sekarang juga ! Menikah itu ternyata menyenangkan ya, ibu ,,, aku ingin menikah juga” semua yang hadir disana tertawa mendengar ucapan Aram Bano yang polos “Kalau begitu kamu harus meninggalkan istana” ujar Jodha “Aku akan menyuruh pengantin priaku untuk tetap tinggal di istana ini saja” semua orang tersenyum “Kamu benar Aram Bano ,,, tapi ketika pengantin priamu kesini, dia akan meminta semua bonekamu, dia akan mengambilnya” sela Salima “Kalau begitu aku tidak mau menikah !” semua orang kembali tertawa melihat tingkah Aram Bano yang lucu dan polos, kemudian Aram Bano meninggalkan mereka “Ratu Salima, terima kasih untuk bantuannya mengatasi Aram Bano”, “Sama sama, Ratu Jodha” kemudian pendeta Hindu meminta semua orang untuk menuju ke Mandap (tempat pernikahan)

Ketika Jodha hendak menuju ke Mandap bersama pelayannya, Jodha melihat Madhav sedang berbicara dengan dua orang laki laki “Apa yang mereka lakukan disini ?” Jodha kemudian mendekati Madhav dan menyapanya “Madhav, bukankah seharusnya kamu pergi ke Mandap, waktu terus berjalan untuk ritual pernikahan” Madhav kaget ketika melihat Jodha dan mengatakan kalau dia akan segera menyusulnya, Jodha pun meninggalkan mereka. Tak lama kemudian Madhav sedang berada di teras bersama 2 orang anak buahnya “Aku telah menyiapkan sebuah hadiah untuk Salim, itu akan menjadi hadiah terakhir bagi dirinya” tepat pada saat itu ditempat Jodha berada, Jodha merasa kalau daun tulsinya tidak ada didalam piring yang dibawanya “Pelayan, aku akan mengambil daun tulsi dulu, kamu bawalah piring ini ke Mandap” Jodha kemudian berbalik kembali hendak mengambil daun tulsi, saat itu Jodha melewati teras dimana ada Madhav dan 2 orang anak buahnya yang sedang merencanakan sesuatu “Kamu pergilah ke kamar Salim dan bunuh dia ! Kalau kamu bunuh Jalal di Mandap nanti !” Jodha yang sempat menguping dibelakang mereka terkejut mendengarnya... Sinopsis Jodha Akbar episode 550 by Sally Diandra

Bagikan :
loading...
Loading...
Back To Top