Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 489 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 489 by Sally Diandra.  Diruang persenjataan, Salim, Murad, Danial, Birbal dan Todar Mal sedang mengecek perlengkapan persenjataan mereka untuk berperang nanti tiba tiba Birbal mendekati Salim dan berkata “Pangeran, Ratu Jodha telah membuktikan bahwa dia adalah ratu yang hebat dengan tidak mengubah agamanya”, “Iya, betul, aku setuju denganmu, paman Birbal ... Ibuku memang pantas mendapatkan semua posisi itu, dia selalu bisa menemukan berbagai macam solusi untuk semua hal” ujar Salim sambil terus mengecek kondisi senjata mereka “Lalu bagaimana dengan ibu Ratu Hamida ?” selidik Birbal “Nenek ingin melakukan ini untuk kebaikan kita semua tapi aku tidak setuju dengan caranya yang membuat ibuku harus merubah agamanya, hanya dari ibukulah aku mendapatkan pelajaran tentang agama Hindu dan Islam, beliau telah banyak mengajarkan aku tentang Islam dan ibu juga tidak pernah memaksa aku untuk menganut agama manapun” Salim kelihatan bangga ketika menceritakan tentang Jodha, sementara Murad dan Danial mendengarkan secara seksama pembicaraan mereka “Lalu apakah kamu akan bicara mengenai hal ini ke nenekmu ?”, “Tidak ! Ibuku selalu berjuang dengan caranya sendiri, beliau selalu menemukan cara untuk segala hal dan aku yakin, saat ini beliau juga akan melakukannya” kata Salim

JA logo 100Sementara itu dikamar Hamida, Hamida sedang memilih milih perhiasan untuk kedua menantu kesayangannya yaitu Salima dan Rukayah “Sekarang kamu pergi kekamar Ratu Jodha, tanyakan padanya perhiasan mana yang mau dia beli ?” Hamida menyuruh penjual perhiasan itu menemui Jodha dikamarnya “Ibu, ibu selalu sayang pada Ratu Jodha tapi lihat, apa yang telah dia lakukan terhadap ibu ? Dia mulai menentang ibu” Rukayah mencoba mencari muka didepan ibu mertuanya ini, tepat pada saat itu Jodha masuk ke kamar Hamida dan menemui mereka disana sambil membawa sebuah nampan yang berisi manisan yang telah dimasaknya sendiri tadi “Ibu, aku tadi baru saja masak manisan (Kheer), ibu aku buat khusus untuk ibu, ibu mencicipi sendikit ya ?” Jodha memohon agar ibu mertuanya mau mencicipi manisan buatannya “Aku tidak mau makan atau bicara denganmu ! Jodha, aku ingin kamu tidak usah berpura pura terus seperti ini, sudah sana pergi !” ujar Hamida dengan nada marah, Jodha sangat sedih mengetahui ibu mertuanya masih belum bisa memaafkan dirinya “Ratu Jodha, aku mohon ... tolong, saat ini ibu sedang marah, pergilah dulu dari sini” Rukayah meminta agar Jodha meninggalkan mereka, ketika Jodha hendak melangkah keluar kamar Hamida, Hamida menghentikan langkahnya, panggilan Hamida membuat Jodha merasa senang, Jodha mengira kalau Hamida sudah sedikit melunak “Bawa manisan itu dari sini ! Tidak ada seorangpun yang akan memakannya !” Jodha benar benar terkejut dan sedih mendengar ucapan Hamida, dengan berat hati Jodha mengambil nampan yang tadi dibawanya dan pergi meninggalkan mereka semua. Sepeninggal Jodha, Salima yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan ibu mertuanya dan Jodha berusaha membujuk Hamida “Ibu, aku rasa Ratu Jodha tidak sengaja melukai perasaanmu”, “Salima ! Tidak usah ikut campur dengan permasalahan ini !” Rukayah sangat bahagia mengetahui kalau Hamida benar benar marah dengan Jodha.

Jalal sedang berjalan jalan dengan Birbal dan Todar Mal “Aku akan pergi berperang dengan anak anakku, kalian berdua tinggal diistana ini untuk melindungi kerajaan !” perintah Jalal “Baik Yang Mulia, kami berjanji untuk selalu melindungi kerajaan” ujar Birbal dan Todar Mal

Sementara dikamar Jodha, Jodha kembali menangis dikamar, saat itu Moti menemaninya “Moti, selama ini ibu selalu mendukung aku tapi sekarang aku telah menentang beliau, bagaimana aku bisa melawan Yang Mulia ? Apakah mungkin memang aku harus mengubah agamaku ? Hanya agar ibu bahagia”, “Jodha, jangan menangis karena Yang Mulia pasti tidak suka akan hal ini” tepat pada saat itu Jalal sudah berada dipintu kamar Jodha dan mendengarkan semua pembicaraan Jodha dan Moti, Jodha kaget begitu melihat Jalal ada disana yang sedang menatapnya dengan perasaan sedih dan kesal, Jalal langsung berbalik keluar dari kamar Jodha, Jodha mencoba mengejar Jalal namun Jalal telah pergi menjauh “Bagaimana kalau Yang Mulia menemui ibu ? Mereka pasti akan bertengkar, mudah mudahan tidak akan terjadi apa apa” Jodha sangat khawatir pada apa yang akan Jalal lakukan.

Dikamar Salim, Salim baru saja selesai menulis sebuah surat untuk Anarkali, kemudian Salim memanggil Qutub “Qutub, apakah kamu bisa memberikan surat ini ke Anarkali, aku tidak akan menemuinya seperti yang dimintanya, hanya saja berikan surat ini padanya” Qutub mengambil surat tersebut dan pergi meninggalkan Salim, tak lama kemudian Rukayah menemui Salim dikamarnya “Salim, kamu itu tidak pernah punya waktu untuk ibu, maka sekarang ibu yang menemui kamu” Salim merasa tidak enak dengan Rukayah “Bukan begitu ibu tertua, aku selalu mempunyai waktu untuk anda, ayooo sini duduk” Rukayah duduk disamping Salim sambil tersenyum “Kamu tahu bahwa kamu akan pergi berperang dalam beberapa bulan tapi kamu tidak menemui ibu” Rukayah mulai merajuk ke Salim “Ibu tertua, aku tahu kalau ibu sangat mencintai aku” Rukayah mulai kesal dengan panggilan Salim padanya “Ibu tertua, ibu tertua, panggil aku ibu saja, Salim ! Bukan ibu tertua, kamu tahu kan kalau nenekmu membawa ibu Jodhamu ke mesjid untuk mengubah agamanya tapi dia tidak jadi mengubahnya” Rukayah semakin kesal “Aku juga tidak menginginkan ibu Jodha mengubah agamanya, itu merupakan tindakan egois kalau ibu Jodha sampai mengubah agamanya” Rukayah merasa heran dengan jawaban Salim “Tapi, Salim ... sepertinya dia ini menunjukkan kalau ibumu tidak peduli denganmu sama sekali, dia tidak ingin melihat kamu menjadi seorang Raja” Rukayah mencoba meracuni pikiran Salim “Biarkan Yang Mulia yang memutuskan siapa yang menjadi raja penerusnya, aku bangga pada ibu Jodha bahwa beliau tidak mau berkompromi soal harga diri dan moralnya, aku memang selalu bersama nenek tapi untuk kasus ini, aku mendukung ibu Jodha dan tidak akan pernah menginginkan dia mengganti agamanya” Rukayah sangat marah mendengar ucapan Salim yang sangat bangga terhadap Jodha namun semua perasaannya itu disembunyikan dalam hatinya “Ibu juga bangga pada kamu, nak ... kamu itu selalu memiliki pemikiran yang luas” Rukayah pura pura mendukung Salim

Hamida sedang berada dikamarnya ketika Jalal menemuinya “Masuklah, Jalal, lihat apa yang ibu punya untuk istri spesialmu” Jalal duduk disamping ibunya dan Hamida menunjukkan padanya dua buah cincin yang telah dia buat khusus untuk istri special Jalal “Ini cuma ada dua cincin sedangkan istriku kan tiga, bu”, “Mungkin Ratu Jodha tidak suka dengan pilihanku, aku sudah menyuruh penjual perhiasan itu untuk menemuinya dikamarnya, dia bisa memutuskan sendiri, cincin mana yang mau dia beli” Jalal menatap wajah ibunya dengan tatapan sedih “Dia tidak menyetujui satu keinginan ibu maka ibu menentangnya ? Ratu Jodha telah melakukan hal yang baik dengan tidak mengubah agamanya, ibu selalu menganggap Ratu Jodha sebagai anakmu sendiri dan sekarang ibu memperlakukan dia seperti ini ?” Hamida masih terdiam sambil mendengarkan semua ucapan Jalal “Aku mengambil keputusan ini untuk bangsaku dan keluargaku” suara Hamida terdengar datar dan dingin “Apa yang ibu pikirkan itu benar, apa yang ibu lakukan dan Ratu Jodha lakukan itu sama sama benar, Ratu Jodha memang harus melakukan hal ini, ibu seharusnya bahagia karena dia menuruti perintahku dengan tidak mengubah agamanya” Jalal mencoba memberikan pengertian ke ibunya “Kamu mendukungnya karena kamu adalah suaminya” ujar Hamida ketus “Ratu Jodha tidak pernah menginginkan aku untuk bertanya pada ibu mengenai permasalahan ini dan aku masih ingat ketika ibu mengikuti suami ibu yaitu raja Humayun, ayahku waktu itu aku berusia 10 tahun, ibu meninggalkan aku diistana dan menemaninya dipadang gurun, ibu selalu mendukungnya dan berada disampingnya” Jalal mencoba membuka hati ibu kandungnya “Ratu Jodha juga melakukan hal yang sama dengan mengikuti perintahku jadi apa yang salah padanya ? Ibu telah menerimanya sebagai anak ibu sendiri dan dia juga selalu menganggap ibu sebagai ibunya, kalian berdua tidak bisa merusak hubungan kalian dengan cara seperti ini” ujar Jalal kemudian pergi berlalu meninggalkan ibunya seorang diri, Hamida hanya diam sambil terus memperhatikan kepergian Jalal.

Dikamar Anarkali, Anarkali telah menerima surat dari Salim kemudian mulai membaca surat tersebut “Anarkali aku ingin bertemu denganmu sebelum aku pergi berperang tapi aku tahu, hal itu akan menentang perintah Yang Mulia, maka aku tidak akan memaksa kamu untuk bertemu denganku, ini adalah harapanku untuk bertemu dengan kamu, aku telah mengirimkan sebuah barang yang special buat kamu, itu adalah tali suci yang diberikan oleh ibumu padaku dulu ketika aku masih bayi, tali selalu melindungi aku dan sekarang tali itu akan melindungi kamu, jika terjadi sesuatu padaku di medan perang maka bibirku ini hanya memanggil namamu hingga ajal tiba” Anarkali memeluk surat dari Salim dan mengambil tali suci yang diberikan Salim kemudian Anarkali meninggalkan kamarnya.

Dikamar Jodha, Jalal menemuinya Jodha dengan beberapa nampan makanan yang dibawa oleh pelayan mereka “Ratu Jodha, aku akan pergi berperang, maka aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, aku bahkan tidak bisa menggodamu tentang ibu sekarang” pelayan pelayan itu menaruh nampan yang berisi makanan itu dimeja kemudian mereka berduapun duduk ketika para pelayan meninggalkan mereka “Bukan seperti itu, Yang Mulia ... ibu sangat menyayangi aku, tapi saat ini ibu sedang kesal denganku, apakah kamu menemui ibu ?”, “Ya, aku menemui ibu, aku hanya memintanya untuk tidak marah pada anak perempuannya” Jalal mencoba menghibur Jodha “Aku dengar dari Moti bahwa kamu tidak makan apapun, kamu itu seringkali berlaku kekanak kanakkan, Ratu Jodha”, “Tidak, Yang Mulia ... aku bisa menjaga diriku sendiri” Jodha mencoba meyakinkan Jalal bahwa dirinya tidak apa apa “Lalu mengapa kamu tidak makan ?” Jalal kemudian menyuapkan buah anggur ke Jodha , ketika suapan tangan Jalal masuk kemulut Jodha, Jodha menggigit jari Jalal dan tertawa “Heiii apa ini ?” Jalal kaget sekali ketika jarinya digigit Jodha “Jangan khawatir, kamu harus hanya berkonsentrasi pada perang, aku akan mengurusi semuanya disini, aku juga kan menghibur ibu” kemudian Jodha menyuapkan buah anggur yang lain ke Jalal, kali ini Jalal yang menggigit jari Jodha dan tersenyum “Heii apa ini ?” Jodha juga kaget dengan tindakan Jalal “Aku hanya belajar dari kamu” mereka berdua kemudian tertawa bersama sama. Sinopsis Jodha Akbar episode 489 by Sally Diandra.

Bagikan :
loading...
Back To Top