Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 554 by Sally Diandra

Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 554 by Sally Diandra. Jalal sedang berjalan jalan bersama beberapa orang kepercayaannya di halaman istana, saat itu Jalal mendapat sebuah pesan dari Sultan Mirza bahwa mereka ingin menjalin hubungan yang lebih erat lagi dengan kesultanan Mughal yaitu dengan menikahkan salah satu anak mereka dengan Murad, Jalal menyetujui lamaran ini.

Sementara itu di ruang utama Hareem, Hamida sedang berkumpul dengan menantunya yaitu Rukayah dan Salima, kebetulan saat itu kaki Hamida sakit “Tidak masalah, penyakit di kaki ibu ini karena usia, bagaimanapun juga ibu kan sudah tua, tak lama lagi juga ibu akan meninggal dengan penyakit ini” ujar Hamida sambil tersenyum, tepat pada saat itu Jodha menemui mereka “Tidak ibu, ibu harus melihat pernikahan cucu ibu yang luar biasa” Jodha mencoba menyemangati mertuanya ini, Hamida tertawa senang dan berkata “Kalau begitu aku akan menghianati kematianku nanti” semua orang tertawa mendengar ucapan Hamida “Aku membawa obat untuk ibu dan aku yakin ibu akan baik baik saja, aku akan mengoleskan obat ini di kaki ibu” Hamida tersenyum mendengar ucapan menantu kesayangannya ini “Kenapa tidak pelayan saja, Jodha ?”, “Aku akan merasa lebih bangga dan senang kalau aku bisa melakukan sesuatu untuk ibu” Rukayah tidak suka mendengar ucapan Jodha, sementara Salima merasa senang dengan perlakuan Jodha ke Hamida, tak lama kemudian Jalal menemui mereka “Bagaimana menurut kalian tentang pernikahan Murad nanti ?” semua ratu yang hadir disana menyetujui usulan Jalal “Tapi sebaiknya tanyakan dulu pendapat Murad, Ratu Salima” Salima menyetujui usulan Jodha, kemudian Salima meninggalkan mereka.

JA logo 100Dikamar Murad, saat itu suasanannya cukup gelap, Murad sedang duduk dikursinya sambil memegang sebuah senjata, tiba tiba Salima menemui Murad seraya berkata “Murad, Yang Mulia Raja telah memutuskan kalau akan memenjarakan kamu !” Murad terkejut dan kaget begitu mendengar ucapan ibunya “Apa yang aku lakukan, ibu ?” ujar Murad dengan nada cemas, Salima menghampirinya sambil tersenyum dan berkata “Karena kamu akan dinikahkan anakku” Murad merasa lega begitu mendengar ucapan ibunya yang ternyata hanya lelucon belaka “Apapun yang kalian putuskan, aku menurut saja karena aku yakin kalian lebih tahu banyak dan yang terbaik untukku” Salima tersenyum mendengar ucapan anaknya ini “Jadi kamu menerimanya ?” Murad mengangguk kemudian Salima meninggalkannya sendirian, ketika Salima telah berlalu dari kamarnya Murad berkata pada dirinya sendiri “Tak lama lagi impianku menjadi seorang Raja akan menjadi kenyataan !” ujar Murad mantap

Di kamar Jodha, Jodha sedang memilih milih perhiasan untuk calon menantu istana yang baru yaitu calon istri Murad, tak lama kemudian Jalal menemuinya dan berkata “Murad belum juga mengatakan setuju atas pernikahan ini dan kamu sudah bersiap siap memilih milih perhiasan, Ratu Jodha” Jodha cemberut mendengar ucapan Jalal “Mengapa tidak ? Calon menantu yang baru akan segera datang” Jalal tersenyum nakal begitu mendengar ucapan Jodha “Kalau begitu kamu harus mulai memikirkan juga nama anak anak Murad nantinya” goda Jalal “Kamu ini selalu mengolok olok aku, Yang Mulia” ujar Jodha kesal “Aku tidak mau bicara dengan kamu !” Jalal segera membuntutinya dan menghentikan langkah Jodha ketika Jodha hendak menghindari Jalal, Jodha segera mendorong tangannya “Kebiasaanmu mendorong aku memang tidak pernah berubah” goda Jalal lagi sambil tersenyum “Kebiasaanmu yang suka mengolok olok aku itu juga tidak akan berubah !” Jodha menjawab ucapan Jalal dengan kesal “Dan semuanya akan berubah sebentar lagi pada kita sebagai tanda kalau kita sudah semakin tua” ujar Jalal dengan senyumannya yang menawan “Coba lihat ini sudah ada rambut putih” Jodha gelisah ketika Jalal memegang rambutnya sambil memperhatikan rambutnya yang katanya mulai memutih “Mana rambut putihnya ?” tanya Jodha cemas, Jalal segera menyandarkan kepalanya ke kepala Jodha dan memeluknya erat sambil berkata “Aku hanya becanda barusan, aku hanya ingin dekat denganmu saja” ujar Jalal manja, Jodha hanya bisa tersenyum mendengar ucapan suaminya yang suka sekali menggodanya.

Di ruang utama di Hareem, Jodha sedang membagi bagikan perhiasannya pada para ratu sambil berkata “Terima kasih untuk kerja keras kalian yang telah membantu kami dalam bisnis yang baru ini” semua ratu senang menerimanya, sementara saat itu Rukayah belum mendapatkan perhiasan tersebut “Ratu Rukayah, kamu juga bisa mengambilnya satu” Rukayah tersenyum sambil berkata “Tidak terima kasih, Ratu Jodha ! Aku sudah punya banyak perhiasan seperti itu dan aku biasanya memberikannya pada Hoshiyar sebagai upahnya membuatkan aku hookah, Ratu Jodha” ujar Rukayah dengan sombongnya “Baiklah, tapi Yang Mulia Rajalah yang meminta agar perhiasaan ini di bagikan pada semua orang, karena bagaimanapun juga ini semua juga dalam rangka pernikahan pangeran Murad” Rukayah hanya tersenyum masam mendengar ucapan Jodha, kemudian Jodha pergi berlalu meninggalkan mereka

Di kamar Jodha, saat itu Jodha sedang bersama sama dengan Moti, tiba tiba Aram Bano datang menemuinya “Ibu, mana hadiahnya yang untuk aku ?” tanya Aram Bano polos “Yaaa ampuuun, ibu sampai lupa !” ujar Jodha sambil memegang keningnya sendiri pura pura lupa, Aram Bano langsung terlihat sedih begitu mendengar ucapan Jodha, Jodha mendekatinya sambil memberikan hadiah perhiasan untuk Aram Bano “Aku tahu kalau ibu itu hanya pura pura saja karena sebenarnya ibu tidak akan benar benar lupa, iya kan ?” Jodha tersenyum melihat kepintaran anak bungsunya ini “Tapi kalau aku pikir memang lebih baik ibu lupa saja” Jodha merasa heran dengan ucapan anaknya “Mengapa bisa begitu ?” tanya Jodha heran “Karena dengan begitu maka ibu pasti akan memberikan aku dua hadiah” Jodha dan Moti tertawa terpingkal pingkal mendengar ucapan Aram Bano yang polos “Baiklah, kalau begitu ibu akan memberikan kamu dua hadiah” ujar Jodha

Orang orang Inggris menemui Jalal dan mengajukan permintaan untuk membuka pabrik senjata di India “Dengan dibukanya pabrik senjata ini, maka anda bisa mendapatkan banyak keuntungan dari pabrik ini dengan memproduksi senjata senjata” ujar orang orang Inggris itu “Untuk itu kami ingin mengajak anda, Yang Mulia untuk pergi ke tempat kami dan mengecek contoh contohnya” Jalal mendengarkan dengan seksama usulan dari mereka “Aku akan memikirkannya terlebih dulu” ujar Jalal

Sementara itu Murad diam diam bertemu dengan orang orang Inggris “Kalau sampai Yang Mulia Raja tidak bersiap bersiap pergi ke tempat kami, maka kamu tidak akan bisa menjadi seorang Raja, pangeran !”, “Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan tapi ingat jangan sakiti Yang Mulia Raja” orang orang Inggris yang licik ini saling memandang satu sama lain “Tenang saja pangeran, kami hanya akan menahan Yang Mulia Raja untuk beberapa hari maka kamu bisa menjadi seorang Raja dan membantu kami” ujar orang Inggris

Di kamar Jodha, saat itu Jodha sedang ngobrol dengan Moti, tiba tiba angin bertiup sangat kencang hingga membuat bulu merak yang biasanya terletak di mahkota Dewa Khrisna itu terbang dan jatuh di lantai, Jodha melihatnya dan merasa khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi “Aku merasa was was, Moti ,,, sepertinya ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi, aku harus mengatakan hal ini pada Yang Mulia” Jodha bergegas menemui Jalal di kamarnya dan mengutarakan kekhawatirannya namun tepat pada saat itu Rukayah juga menemui mereka dan memberikan dukungan ke Jalal untuk pergi “Yang Mulia, ada baiknya kamu menuruti permintaan orang Inggris itu, karena hal ini akan sangat menguntungkan untuk kita” Jalal mendengarkan nasehat dari kedua istri kesayangannya itu “Kalian berdua ini memang benar tapi aku lebih setuju dengan pendapat Ratu Rukayah dalam hal ini karena aku tidak melihat ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi nanti” ujar Jalal, Rukayah tersenyum senang karena akhirnya Jalal menyetujui pendapatnya

Di halaman istana, Jodha memanggil Todar Mal dan Maan Singh “Tuan Todar Mal dan kamu Maan Singh, sebentar lagi Yang Mulia Raja akan pergi, aku memberikan tanggung jawab pada kalian berdua, untuk kamu tuan Todar Mal, tugasmu mengurusi istana sementara kamu Maan Singh, aku titipkan Yang Mulia Raja padamu, jagalah dia” Maan Singh mengangguk “Tenang saja, bibi ,,, kami pasti akan menjaga Yang Mulia Raja !”

Orang orang Inggris sedang menunggu kedatangan Jalal, Birbal menemui mereka dan berkata “Yang Mulia menyetujui permintaan kalian yang sangat menguntungkan, maka bisa di pastikan kalau Yang Mulia Raja pasti akan setuju dengan undangan kalian” tepat pada saat itu Maan Singh dan Todar Mal menghampiri mereka, Birbal memberitahukan pada mereka tentang persiapan mereka di depan orang orang Inggris itu

Jodha dan Jalal sedang berjalan jalan di halaman istana menuju ke teras tengah halaman istana “Yang Mulia, pulanglah segera dan bawa Rahim bersamamu” Jalal hanya tersenyum “Ratu Jodha, kekhawatiranmu ini tidak beralasan, karena para prajuritku akan selalu bersamaku dan orang orang Inggris itu tidak akan bisa melakukan apapun padaku” ujar Jalal tenang, tepat pada saat itu mereka sudah sampai di tempat di mana semua anggota keluarga kerajaan akan melepas kepergian Jalal, orang orang Inggris juga ada disana, para ratu menghampiri mereka, Jalal meminta restu pada ibunya sambil memeluk ibunya erat dan bersiap siap untuk pergi, semua Ratu memberikan restu padanya termasuk Jodha yang masih merasa cemas. Ketika semua orang sedang menuju ke gerbang istana, salah satu orang Inggris menengok ke belakang ke balkon istana dimana Murad sedang berdiri disana sambil menganggukkan kepalanya, mereka berdua saling memandang satu sama lain penuh arti. Tak lama kemudian Jalal dan orang orang kepercayaannya sudah siap berangkat dengan kuda mereka, Rukayah berkata dalam hati “Aku sangat berharap perjanjian ini akan berhasil karena dengan begitu aku akan mendapatkan tanggung jawab untuk mengurusi hal ini dan statusku akan lebih tinggi daripada Jodha !” bathin Rukayah sinis ... Sinopsis Jodha Akbar episode 555 by Sally Diandra.

Bagikan :
loading...
Loading...
Back To Top