Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 548 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 548 by Sally Diandra. Malam itu Jodha dan Jalal sedang berjalan jalan di halaman istana sambil berbincang bincang “Yang Mulia, aku yakin Maan Bai pasti akan menjadi istri yang baik dan menantu yang baik” Jalal tersenyum “Aku memaksa Salim menerima pernikahan ini karena aku bisa melihat bayanganmu dalam diri Maan Bai dan dia akan menjadi istri yang baik untuk Salim”, “Bahkan aku juga sudah merasa nyaman kalau semuanya baik baik saja antara kamu dan Salim” ujar Jodha sambil melirik ke suaminya “Aku juga bahagia, Ratu Jodha” tiba tiba ketika Jodha memalingkan pandangannya ke arah balkon, Jodha merasa ada seseorang yang sedang berdiri di teras balkon yang gelap “Ada apa, Ratu Jodha ?” Jalal rupanya melihat kegelisahan di raut wajah Jodha “Yang Mulia, aku merasa ada seseorang yang sedang berdiri disana, aku merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kita dari tadi” ujar Jodha sambil terus memperhatikan ke teras balkon yang gelap tersebut “Tenang, Ratu Jodha ,,, aku akan menyuruh prajurit untuk mengeceknya” Jalal segera memanggil prajuritnya untuk mengecek apakah disana ada orang atau tidak “Jangan khawatir, Ratu Jodha ,,, para prajuritku pasti akan mendapatkan dia” para prajurit menghampiri Jalal dan Jodha kembali “Yang Mulia, tidak ada siapa siapa disana” Jodha tertegun “Itu pasti cuma kecurigaanmu karena kegelapan”, “Iya mungkin” kemudian mereka berdua berjalan kembali, tiba tiba Jalal mendekat ke arah Jodha sambil berbisik “Kamu benar, Ratu Jodha ,,, memang melihat juga ada seseoarang di teras, aku tidak ingin menunjukkan kalau kita tahu tentang kehadirannya, jadi tetaplah bicara seperti biasa” bisik Jalal “Ratu Jodha, lihat cuaca sangat cerah, kita seharusnya pergi keteras balkon saja, untuk menikmati indahnya malam ini” Jodha hanya tersenyum mendengar ucapan Jalal, kemudian mereka berdua berjalan di teras, tiba tiba dari arah belakang ada seseorang yang membuntuti mereka, orang itu hendak mengeluarkan pedangnya, Jalal yang sedari tadi menyadari kehadirannya segera berbalik dan menatapnya garang seraya berkata

JA logo 100“Kamu tidak akan selamat hari ini !” bentak Jalal “Salam Ratu Jodha” Jodha yang juga ikut berbalik menatap kearah orang itu, langsung kaget dan berkata “Kamu ?” Jalal bingung “Kamu kenal dengan orang ini, Ratu Jodha ?”, “Dia ini Madhav Singh, kakaknya Maan Bai, keponakanku” tepat pada saat itu prajurit mendekati mereka dan hendak menangkap Madhav “Pergilah, tidak apa apa”ujar Jalal “Aku tidak begitu mengenalinya karena aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya”, “Bagaimana caranya kamu datang kesini ?” Jodha masih penasaran dengan kehadiran keponakannya ini “Aku baru saja datang, bibi ,,, aku pikir untuk mengejutkanmu, aku minta maaf Yang Mulia” Jalal tersenyum ketika Madhav menundukkan tubuhnya “Tidak masalah tapi berhati hatilah bila kamu ingin bermain main dengan seorang Raja, jangan lakukan itu lagi” kemudian Jalal menyuruh prajuritnya untuk mengantar tamu barunya ini ke kamar tamu “Mari, Ratu Jodha” Jodha dan Jalal segera meninggalkan Madhav, sepeninggal mereka berdua, Madhav berkata dalam hati “Aku bukan seperti Maan Singh yang selalu menjadi bayanganmu, aku adalah bayangan kematianmu Jalal ! Kematianmu akan selalu mengitarimu sekarang !” bathin Madhav dalam hati

Didalam kamar Rukayah, Rukayah sedang terbaring di ranjangnya sambil menangis sejadi jadinya dengan rambut yang acak acakan, Rukayah nampak gelisah kemudian menjilat opium seraya berkata “Kenapa kamu selalu mencintai Jodha, Jalal ? Meskipun setelah semua ini kamu menjauh dari aku, kamu adalah garis hidupku, aku berada di Agra untuk waktu yang cukup lama selama bertahun tahun itu semua karena kamu, Jalal ! Aku berusaha untuk mengubah hidupku demi kamu tapi kamu hanya mencintai Jodha ! Kenapa ? Kenapa Jalal ?” teriak Rukayah lantang dengan amarahnya yang memuncak kemudian Rukayah bangun dan berdiri dari ranjangnya menuju ke meja riasnya, Rukayah melihat wajahnya di depan kaca rias “Kenapa Jalal ? Kenapa ? Kenapa hanya Jodha ! Apakah aku tidak begitu cantik ? Apakah aku tidak begitu baik ? Apa yang Jodha punya yang tidak aku miliki ? Apa ?” ujar Rukayah sambil menangis tersedu sedu

Salim masih berada di kamar Anarkali, mereka berdua masih duduk di tepi ranjang, Salim masih memegang kaki Anarkali yang luka, tepat pada saat itu Maan Bai datang menemuinya dan melihat Salim sedang memegang kaki Anarkali yang terluka, Anarkali kaget dan segera menarik kakinya ketika melihat Maan Bai berdiri di pintu kamarnya “Pangeran Salim, sudah cukup ,,, kenapa kamu begitu peduli denganku ? Aku tahu kamu melakukan ini karena aku adalah temannya putri Maan Bai tapi pada kenyataannya aku adalah seorang pelayan” Maan Bai nampak tersenyum ketika mendengar ucapan Anarkali, Maan Bai segera menghampirinya, Salim terkejut ketika melihat Maan Bai muncul dihadapan mereka “Anarkali, apakah kamu baik baik saja ?”, “Aku baik baik saja, tuan putri ,,, katakan pada pangeran Salim bahwa aku baik baik saja” Maan Bai yang duduk dibelakang Anarkali hanya tersenyum dan berkata “Dia melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku minta maaf karena aku datang terlambat, pangeran Salim ,,, terima kasih karena kamu telah merawat temanku” ujar Maan Bai “Bagaimana bisa aku tida peduli dengannya ? Dia ini sangat dekat dengan hatiku” Maan Bai tertegun ketika mendengar ucapan Salim “Maksudku dia ini sangat dekat dengan kamu maka dengan begitu dia dekat juga dengan aku” Maan Bai tersenyum dan tersipu malu “Jika aku tidak peduli dengannya maka kamu akan kesal denganku” tambah Salim lagi “Tidak, aku tidak akan kesal dengan kamu”, “Kalau begitu kalian berdua bisa ngobrol sekarang, aku akan pergi” ujar Salim sambil berlalu meninggalkan mereka berdua “Aku sangat beruntung bisa menikah dengan Salim, seseorang yang sangat peduli dengan temanku pasti sangat mencintai aku” ujar Maan Bai setelah Salim pergi “Kamu benar, tuan putri ,,, kamu sangat beruntung mendapatkan pendamping hidup seperti dia, aku turut bahagia untuk kamu” ujar Anarkali sedih

Shahabudhin masih di dalam penjara, tak lama kemudian Murad menemuinya, Shahabudin sangat senang melihat kedatangan Murad “Pangeran Murad, aku tahu kamu pasti akan datang untuk menyelamatkan aku” Murad langsung memberikan kode untuk diam dengan tangannya diletakkan ditengah bibirnya “Ssssttttt !!! Diamlah ! Jika ada seseorang yang melihat aku maka aku akan dalam masalah !” ujar Murad kesal “Aku tidak bisa berada disini, pangeran ,,, aku takut bagaimana nantinya jika aku menceritakan tentang kamu”, “Kamu tidak akan melakukan hal seperti itu !” bentak Murad “Sampai saat ini aku tidak mengatakan pada siapapun akan tetapi penderitaan itu ada batasnya, pangeran ,,, lidahku bisa saja kesleo” Murad sangat marah mendengar ucapan Shahabudin “Aku telah merencanakan sesuatu untukmu” ujar Murad sambil memberikan duplikat kunci penjara dan sebuah belati seraya berkata “Lebih baik kamu melarikan diri besok malam dari penjara ini dan temui aku di dekat danau” Murad kemudian meninggalkan Shahabudin, Shahabudin sangat senang sekali, akhirnya dirinya bisa bebas

Jodha dan Jalal sedang berada di kamar Jodha, saat itu Jodha sedang mencopot perhiasannya satu per satu sedangkan Jalal duduk di tepi ranjang “Maan Bai, pasti akan senang sekali bisa bertemu dengan Madhav disini, kamu tahu Yang Mulia ,,, Madhav itu selalu menentang hubungan Mughal dengan Rajvanshi, pada saat kita menikah dulu, dia masih kecil tapi dia sangat menghina ayaku saat itu, tapi aku senang kalau akhirnya dia bisa menerimanya sekarang” Jalal tersenyum sambil mendekati Jodha yang masih duduk di depan meja riasnya “Sebenarnya tidak masalah kalau tidak setuju, karena banyak orang Rajvanshi yang masih tidak suka dengan aku, tapi dia telah datang kemari dan meninggalkan rasa tidak setujunya, itu bagus ! Tapi jika dia mencoba untuk menghina disini maka aku tidak akan membiarkannya !” Jodha tersenyum “Dia tidak akan berbuat seperti itu, jika dia memiliki rasa kebencian maka dia tidak akan mau datang kesini, dia sangat menyayangi Maan Bai” ujar Jodha sambil memegang tangan Jalal yang memegang bahunya

Sementara itu di kamar Madhav Singh, saat itu Madhav Singh sedang mengasah pedangnya sambil berkata “Aku hanya menyukai pemikiranku saja, aku harus datang ke istana ini untuk membunuh Salim dan Jalal, di pesta pernikahan nanti aku akan menumpahkan darah orang orang Mughal dengan begitu tidak ada keturunan Mughal manapun yang berani mendatangi gadis gadis Rajvanshi !” ujar Madhav dengan nada penuh kebencian

Jalal dan Jodha masih berada di kamar Jodha “Rasanya sudah cukup lama kita tidak berduaan sejak terakhir kita bersama, jadi aku kira hari ini kita seharusnya menikmati malam ini berdua, aku ingin berduaan saja denganmu, Ratu Jodha” ujar Jalal sambil menaruh kepalanya di kepala Jodha, Jodha hanya tersipu malu sambil melirik ke arah suaminya melalui pantulan kaca riasnya “Ibuuuuuu !!!” tiba tiba Aram Bano datang menghampiri mereka berdua bersama salah seorang pelayan, Jalal kaget melihat kemunculan Aram Bano, sementara Jodha hanya menyeringai senang melihat putri bungsunya “Aram Bano, bukannya kamu bersama Maan Bai ?” tanya Jodha “Aku kesal dengan Maan Bai, ibu !” ujar Aram Bano dengan wajah polosnya “Apa yang telah dia lakukan ?”, “Dia bilang kalau aku harus meninggalkan istana ini, aku harus meninggalkan ayah dan ibu, tapi ini kan rumahku lalu mengapa aku harus pergi ? Dia bilang kalau aku akan menikah dan meninggalkan kalian” ujar Aram Bano polos, Jalal dan Jodha tersenyum melihat kepolosan anaknya ini “Jangan khawatir, nak ,,, kamu tidak akan pergi kemana mana meskipun setelah menikah nanti, sekarang pergilah ke kamarmu” Jalal mencoba menghibur anaknya dengan maksud agar Aram Bano mau kembali ke kamarnya agar dia dan Jodha bisa berduaan malam ini.

“Aku nggak mau ! Aku ingin tidur dengan ibu, ayah !” ujar Aram Bano sambil berlari dan naik ke atas ranjang, Jalal kaget dan memberikan kode ke Jodha untuk menyuruh Aram Bano kembali ke kamarnya, Jodha hanya tersenyum melihat tingkah suami dan anaknya ini, kemudian Jodha mendekati Aram Bano di ranjang seraya berkata “Baiklah, ibu akan menidurkan kamu” ujar Jodha sambil melirik ke arah Jalal yang masih tertegun disana “Aku ingin mendengarkan dongeng, ibu !” Jalal yang masih berdiri disana semakin bingung melihat tingkah Aram Bano yang keras kepala “Aram Bano, kamu seharusnya tidur, mendengarkan dongengnya lain kali saja” Aram Bano segera bangun dan duduk begitu mendengar ucapan Jalal yang saat itu sudah duduk di kursi “Ayah, kami mendengarkan dongeng hanya pada malam hari saja !” ujar Aram Bano kesal “Pelayan kamu pergi saja !”, “Eh jangan ! Pelayan bawa dia begitu dia tidur !” perintah Jalal “Tidak ! Aku tidak akan pergi kemana mana, apakah ayah mengantuk ? Jika ayah mengantuk maka lebih baik ayah tidur saja dulu !” Jodha hanya tersenyum melihat perdebatan suami dan putri bungsunya, sementara Jalal hanya bisa pasrah menunggu Aram Bano tertidur “Ibu, ceritakan aku sebuah dongeng !”, Baiklah, sayang,,” Jodha mulai mendongeng sebuah cerita sambil melirik ke arah Jalal yang hanya bisa menahan keinginannya untuk berduaan dengan Jodha, Jodha tersenyum, Jalal pun tersenyum. Jalal yang tadinya menunggu Aram Bano tertidur malah ikutan tertidur di kursi, Aram Bano saat itu sudah tidur, Jodha segera bangun dan menghampiri suaminya sambil membelai belai rambut Jalal, Jodha merasa kasihan melihat suaminya, tiba tiba Jalal memegang tangan Jodha dan menciumnya lembut

“Apakah kamu tertidur ?”, “Kamu telah membangunkan aku, kamu telah membuat aku menunggu cukup lama, sekarang mendekatlah padaku” Jodha tersenyum dan mengerti maksud suaminya “Sssttt ,,, Aram Bano bisa bangun nanti” ketika Jodha mendekat kearah wajah Jalal dan hendak menciumnya tiba tiba Aram Bano bangun dan memanggil Jodha lagi “Ibuuu ... ceritakan dongeng selanjutnya” Jodha dan Jalal kaget, akhirnya Jodha menghampiri Aram Bano lagi dan berbaring disampingnya sambil melirik ke arah Jalal yang sedang memandang kearah mereka sambil tiduran di kursi dengan perasaan kesal dan sedih karena Aram Bano menganggu kemesraannya dengan Jodha, Jodha kembali menceritakan dongeng untuk Aram Bano, Jalal hanya bisa geleng geleng kepala kemudian melanjutkan tidurnya.

Keesokan harinya, keluarga Bhagwandas sedang berkumpul di ruangan pribadi mereka “Maan Singh, kamu akan melakukan pekerjaan untuk Yang Mulia Raja lalu siapa yang akan melakukan ritual sebagai saudara pengantin wanita ?” tepat pada saat itu Jodha menemui mereka bersama Madhav seraya berkata “Saudara yang lain ada disini, kak” Bhagwandas dan istrinya nampak terkejut melihat kedatangan Madhav Singh “Salam ayah, salam ibu, salam kak Maan Singh”, “Kamu disini ? Bukannya kamu menentang pernikahan ini ?” Bhagwandas merasa aneh dengan kehadiran anaknya yang tiba tiba “Aku harus datang untuk menemui adik perempuanku, ayah” Bhagwandas masih belum percaya pada ucapan anaknya ini “Kita seharusnya merayakan pernikahan ini dengan hati yang terbuka, kakak ipar sudah saatnya kita mengadakan perayaan Mehndi” ujar Jodha kemudian berlalu meninggalkan mereka bersama istri Bhagwandas, Madhav juga ikut berlalu dari sana. Sepeninggal mereka, Bhagwandas masih belum percaya 100% terhadap anaknya ini dan bertanya ke Maan Singh “Bagaimana menurutmu, Maan Singh ,,, apakah Madhav senang dengan pernikahan ini ?”, “Aku berharap begitu, ayah ,,, kadang kadang kasih sayang seorang adik perempuan dapat merubah suatu pemikiran” ujar Maan Singh

Sementara itu di sebuah ruangan Jodha, Hamida, Salima dan Rukayah menemui Maan Bai yang sudah berkumpul bersama keluarganya yang perempuan untuk melakukan perayaan Mehndi, Anarkali juga ada disana. Jodha menunjukkan shagun mehndi pada Maan Bai “Ratu Amer, silahkan dimulai pembuatan mehndinya di tangan putri Maan Bai” ujar Hamida “Yang pertama kali melakukannya adalah ibu mertuanya terlebih dulu” ujar Ratu Amer, Jodha langsung duduk di depan Maan Bai dan dilihatnya ada Anarkali sedang berdiri di sebelah Maan Bai, Anarkali juga memandangnya “Tidak, ibu ,,, aku tidak bisa membuat mehndi ini” semua orang terkejut dan memandang ke arah Jodha. ..Sinopsis Jodha Akbar episode 549 by Sally Diandra.

Bagikan :
loading...
Back To Top