Loading...

Sinopsis Jodha Akbar episode 501 by Sally Diandra

Sinopsis Jodha Akbar episode 501 by Sally Diandra. Berita rencana perceraian Jalal dan Jodha menyebar ke seluruh penjuru negeri, semua orang membicarakan hal tersebut, termasuk Birbal, Abu Fazal dan Todar Mal “Yang Mulia Raja Jalal selalu mempunyai pemikiran yang berbeda” ucapan Todar Mal membuat kedua menteri Jalal itu berfikir keras “Hanya waktu saja yang akan mengatakan bahwa semua ini benar atau tidak” Abu Fazal ikut angkat bicara “Aku sangat berharap Ratu Jodha diberi kekuatan dalam menghadapi ini semua” ujar Birbal sedih

JA logo 100Tak lama kemudian Salim, Danial dan Murad berserta pasukannya kembali ke istana Kerajaan Mughal di Agra, semua orang bahagia menyambut kedatangan mereka, Jodha melakukan ritual aarti untuk menyambut kedatangan anak anaknya terutama Salim “Ibu selalu berdoa untuk kalian bertiga agar selalu menang” ketiga anak itu tersenyum, kemudian Salim menyentuh kaki ibunya, Jalal yang melihat mereka dari kejauhan berusaha acuh dengan memalingkan mukanya kearah yang lain, Salim melihat neneknya berdiri disana dengan kerinduan yang mendalam, Salim segera menghampiri Hamida “Nenek, ada dengan nenek ? Apa yang terjadi pada nenek ?” Hamida tersenyum senang melihat cucunya “Sekarang kamu telah datang, nenek pasti akan baik baik saja, Salim”, dilain sisi Murad menghampiri ibunya yaitu Salima dan memeluknya, Salima terharu dan bangga melihat anaknya kembali “Ibu bangga sekali dengan kamu Murad”, kemudian Salim menghampiri Rukayah dan memeluknya erat, Rukayah langsung mencium kening Salim “Nenek benar benar bangga pada kalian bertiga” ujar Hamida yang sudah kelihatan semakin membaik kondisi kesehatannya setelah anak dan cucunya kembali ke Agra, sementara itu Salim menyadari ada sesuatu yang tidak beres antara kedua orangtuannya, karena mereka berdua berdiri berjauh jauhan dan saling memandang dengan kesal satu sama lain, Salim tidak tahu apa yang terjadi pada mereka tapi Salim bisa merasakannya “Semuanya aku harap datang ke ruang sidang Dewan - E - Khaas sekarang” perintah Jalal sambil ngeloyor pergi dari hadapan mereka semua.

Diruang sidang Dewan - E - Khaas, semua orang telah berkumpul disana untuk mendengarkan apa yang akan diumumkan oleh Jalal “Sebagai seorang ayah, anak anak adalah kekuatannya dan anak anakku telah membuktikan itu, seseorang mencoba untuk menyulut peperangan antara aku dan anakku tanpa bertanya dulu padaku, aku bertarung dengan mereka dan memenangkan peperangan ini untukku, mereka adalah sebagai contoh dan aku sangat bangga pada anak anakku, hari ini aku akan mengumumkan bahwa tahta kerajaan ini adalah milik pangeran Salim kembali karena bagaimanapun juga dia adalah anak tertua jadi dia yang lebih pantas untuk menjadi penerus raja !” Salim terlihat senang mendengarkan ucapan ayahnya, begitu pula yang hadir disana termasuk para ratu dan Hamida, semua orang mengelu elukan nama Salim “Hidup pangeran Salim ! Hidup pangeran Salim ! Hidup pangeran Salim !” namun sayangnya Murad dan Danial tampak tidak menyukai berita gembira ini, Murad sangat kesal karena itu artinya dia hanya sementara menggantikan posisi Salim “Aku akan menobatkan Salim sebagai calon pewaris tahta kerajaan pada hari perayaan Poonam” ujar Jalal sambil berdiri, Salim mendekatinya dan memeluk Jalal, dari tempatnya berdiri dibilik ratu, Jodha terharu melihat keakraban suami dan anaknya “Paling tidak sekarang Yang Mulia dan Salim telah saling akur kembali” bathin Jodha dalam hati

Sementara itu ketika malam tiba, diluar Anarkali sedang membakar dedaunan dan ranting ranting kering, tak lama kemudian Salim datang menemuinya “Kamu tidak perlu lagi membakar daun dan ranting itu karena aku telah kembali pulang” Anarkali melirik kearah Salim, Anarkali sangat bahagia melihat Salim telah kembali untuknya, Anarkali segera memeluk Salim erat “Terima kasih, Tuhan ... akhirnya kamu telah kembali, aku sangat merindukanmu, aku selalu berdoa untukmu setiap pagi dan malam, mengapa kamu pulang begitu lama ?” ujar Anarkali sambil terus memeluk Salim, Salim menikmati pelukkan Anarkali dan membalasnya dengan mesra, namun sesaat kemudian Anarkali teringat kata kata ibunya, Zil Bahar “Pangeran Salim itu hanya impianmu saja, Anarkali !” Anarkali segera melepaskan pelukkannya dari tubuh Salim perlahan dan mengalihkan pandangannya kearah yang lain “Aku tadi bilang maksudku aku berdoa untuk seluruh pasukan Mughal” Salim tersenyum melihat kecanggungan Anarkali “Aku mencintai kamu, Anarkali dan aku yakin sekarang kamu juga mencintai aku tapi kamu tidak menunjukkannya dan sampai sekarangpun kamu masih menyembunyikan perasaanmu itu” Salim mendekati Anarkali “Tidak ! Tidak Salim, aku tidak mencintai kamu” Anarkali mencoba untuk menutupi perasaannya “Kamu bohong ! Begitu besarnya aku mencintai kamu maka sebesar itu pula kamu mencintai aku, katakan sekali lagi ! Apa yang ada didalam hatimu sekarang ? Dalam setiap tarikan nafasmu, dikedua bola matamu, katakan bahwa kamu mencintai aku, katakan bahwa jantungmu selalu berdegup kencang hanya untuk Salim seorang” tiba tiba pipi Anarkali basah oleh airmata “Bukan seperti itu, Salim” Anarkali masih terus menyembunyikan perasaannya “Kalau tidak seperti itu lalu mengapa kamu membakar dedaunan dan ranting ini ? Mengapa kamu tiba tiba menangis ?” Salim mendekatkan wajahnya ke Anarkali, Anarkali menatap kedua bola mata Salim “Ya, aku mencintaimu, Salim” Salim terkejut dan tersenyum senang “Tapi cintaku ini akan merusak dirimu, Salim ... itulah mengapa aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu dan aku merasa sekarat ketika kamu menjauh dari aku” Anarkali kembali memeluk Salim erat seakan akan enggan melepaskan pelukkannya ditubuh kekasihnya itu, Salim juga membalas pelukkan Anarkali, akhirnya apa yang diinginkannya selama ini terkabulkan, lagu Rabba is pyar mein mulai terdengar merdu “Aku tidak bisa berkata apa apalagi, seakan akan aku ini kehabisan kata kata untuk mengatakan bahwa aku sangat bahagia saat ini, mulai sekarang kita akan menjadi satu, aku akan mengatakannya pada ibuku Mariam Uz Zamani, aku akan mengatakan padanya bahwa aku sangat mencintaimu, aku yakin ibuku pasti akan bisa meyakinkan Yang Mulia juga akan perasaanku ini” Anarkali mengendurkan pelukkannya, Salim kaget dan menyusul Anarkali yang duduk dibebatuan “Apakah kamu yakin bahwa Yang Mulia akan mendengarkan kata kata Mariam Uz Zamani ?” Salim heran mendengar ucapan Anarkali “Memangnya kenapa ? Katakan padaku ada masalah apa sebenarnya ?”, “Ketika Yang Mulia sedang berperang, Mariam Uz Zamani mencoba untuk mengubah agamanya tapi untungnya Yang Mulia bisa segera menghentikannya, namun sayangnya Yang Mulia kesal pada Mariam Uz Zamani” Anarkali mencoba menceritakan semua kejadian yang menimpa kedua orang tua Salim saat ini “Saat ini Yang Mulia berencana akan menceraikan Mariam Uz Zamani” Salim sangat terkejut mendengarnya

Malam itu Jalal sedang menikmati minumannya seorang diri dikamarnya sambil menatap pada lukisan Jodha yang tergantung didinding kamarnya, tak lama kemudian salah prajuritnya mengabarkan bahwa Salim ingin bertemu dengannya, Jalal mengijinkan, Salim segera masuk kekamar ayahnya, begitu melihat kedatangan Salim, Jalal menyuruhnya duduk disebelahnya sambil menikmati minuman bersamanya “Aku datang kesini bukan untuk duduk, Yang Mulia ! Aku ingin bertanya padamu mengapa kamu hendak menceraikan ibuku ?” Jalal tertegun “Karena aku merasa benar !”, “Sepanjang hidupnya dia telah memberikan nyawanya untukmu, selalu mendampingi disetiap langkahmu, selalu mencintaimu dan kamu membalasnya dengan cara seperti ini ?” Salim benar benar marah pada perlakuan Jalal keibunya “Seseorang yang sangat mencintai tidak mungkin melakukan seperti yang ibumu lakukan, Salim !” Jalal mulai kesal ke Salim yang berusaha membela ibunya “Yang aku tahu bahwa ibuku tidak pernah berbuat sesuatu yang salah ! Dia selalu menuruti semua perintahmu ! Jadi mengapa kamu putuskan hal semacam ini ?”, “Ibumu telah menentang aku ! Dia telah berusaha mengubah agamanya !” Jalal tetap bersikeras dengan pendiriannya “Pasti ada suatu alasan dibalik semua ini ! Ibu selalu memikirkan orang lain, ibu selalu peduli pada orang lain, sebelumnya ibu tidak mengubah agamanya demi ayah !” Salim sangat kesal dengan ayahnya “Ketika ayah memerintahkan pada ibumu untuk tidak mengubah agamanya lalu mengapa dia melakukannya pada saat ayah tidak berada ditempat ? Ayah akan menghukum ibumu, Salim ! Dan itu adalah keputusanku !”, “Baiklah ! Lakukan apapun yang ayah inginkan ! Akan tetapi apa yang telah ayah lakukan ini adalah suatu kesalahan ! Dan jika keputusanmu bahwa kamu akan menceraikan ibuku, maka aku juga telah mengambil keputusan bahwa aku tidak mau menjadi penerus tahta kerajaan !” ujar Salim sambil berlalu meninggalkan Jalal, Jalal sangat terkejut mendengarnya

Sementara malam itu Hamida dan Gulbadan sedang bercengkrama diteras yang berada di tengah halaman, tak lama kemudian Abu Fazal (penulis autobiografinya Jalal yang juga salah satu menterinya) menemui Hamida “Ibu Ratu Hamida, ada sebuah masalah yang terjadi disini” Hamida bingung dengan ucapan Abu Fazal “Terus terang saya tidak bisa menemui Yang Mulia makanya saya menemui anda, seperti yang anda tahu kalau saya ini yang menulis biografi Yang Mulia tapi disini tidak ada sejarah yang menyebutkan tentang perceraian dalam kehidupan semua Raja Raja Mughal sebelumnya, saya tidak bisa menulis untuk bab ini, saya minta maaf, ibu Ratu Hamida” Abu Fazal kemudian memberikan buku yang ditulisnya itu pada Hamida dan berlalu meninggalkan mereka, Hamida dan Gulbadan nampak terkejut dan menatap sedih pada buku tersebut.

Sementara itu dikamar Jalal, Maan Sigh mencoba menemui Jalal dikamarnya “Maan Sigh, ada apa ?”, “Yang Mulia, terus terang saya tidak senang dengan keputusan anda ! Anda telah melakukan kesalahan terhadap Ratu Jodha, jika Ratu Jodha pergi meninggalkan kesultanan Mughal maka saya juga akan pergi bersamanya” Jalal terkejut “Ini adalah keputusanku ! Kamu adalah menteriku jadi kamu harus menuruti perintahku !”, “Dulu saya adalah keponakan Ratu Jodha, saya datang ke kerajaan ini hanya karena saya ingin melindungi Ratu Jodha maka saya akan kembali pulang hanya bersamanya, saya memang sangat setia dengan kesultanan Mughal tapi sejak awal saya terhubung dengan Ratu Jodha, saya kali ini berbicara pada paman saya bukan pada Raja Mughal, anda bisa menghukum saya, saya terima, saya minta maaf” ujar Maan Sigh kemudian berlalu meninggalkan Jalal, Jalal menatapnya dengan pandangan sedih.

Di sidang Dewan - E - Khaas, semua orang anggota keluarga kerajaan berkumpul disana untuk menyaksikan proses perceraian Jalal dan Jodha, Jalal turun dari singgasananya dan berdiri sambil melirik sekilas kearah Jodha yang juga sudah berdiri dibilik ratu dengan tatapan yang tegar, tidak ada airmata disana “Proses perceraian bisa dimulai !” Jalal memerintahkan pada ulamanya, semua yang hadir disana sedih dan tegang “Yang Mulia Raja akan menceraikan Ratu Jodha karena Ratu Jodha telah menghinanya dan ini adalah perceraian yang sah !” ujar ulama Syeh Mubarak “Yang Mulia Raja akan memberikan mahar untuk perceraian ini pada Ratu Jodha”, “Saya terima !” ujar Jodha mantap tanpa ada keragu raguan, Syeh Mubarak berkata kembali “Semua itu terdiri dari beberapa keping emas, perhiasan, koin emas dan masih banyak lagi yang lain”, “Hanya itu ?” Jodha mulai angkat bicara, semuanya menatap kearah Jodha dengan pandangan tidak percaya termasuk Jalal yang juga kelihatan bingung dengan pertanyaan Jodha “Aku tidak akan terima ini, aku ingin mahar yang lebih banyak lagi !” semua yang hadir disana terkejut. Sinopsis Jodha Akbar episode 502 by Sally Diandra

Bagikan :
loading...
Back To Top